Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Dukungan Terhadap Riset Antibisa Ular di Indonesia Minim..!

Kota Malang – Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc., baru-baru ini mengungkapkan masalah serius mengenai kurangnya dukungan untuk riset obat antibisa ular di Indonesia. Dalam pengukuhannya sebagai profesor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya pada Rabu, 28 Mei 2025, ia menyoroti bahwa Indonesia, dikenal dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, masih tertinggal dalam pengembangan obat ini.

Indonesia memiliki banyak jenis ular berbisa, namun saat ini hanya ada satu jenis serum antibisa yang diproduksi oleh Bio Farma. 

Serum ini hanya dapat menangani tiga jenis ular, padahal racun ular sangat bervariasi. 


"Korban gigitan ular sering kita jumpai, terutama di daerah perkebunan kelapa sawit," ujar Prof. Nia. 


Dia juga menambahkan bahwa banyak rumah sakit di daerah tidak memiliki stok antibisa yang memadai, bahkan ada yang kedaluwarsa karena tidak terpakai.

"Gigitan ular seringkali hanya memiliki waktu hitungan menit atau jam untuk menyelamatkan nyawa, namun antibisa tidak tersedia karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi. Ini sangat ironis," tegasnya.

Di negara tetangga seperti Malaysia, riset mengenai racun ular sudah digunakan untuk pengobatan kanker yang lebih efektif. 

Prof. Nia dan timnya tengah berusaha mengembangkan antibisa yang lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi pemodelan komputer atau in silico. 


Penelitian ini dimulai dengan karakterisasi protein dari racun ular yang berbeda-beda di Indonesia.
Namun, pengembangan riset ini terhambat oleh kurangnya regulasi yang mewajibkan penyediaan antibisa di rumah sakit dan puskesmas. 


Hal ini menyebabkan penelitian tidak mendapatkan dukungan yang memadai karena dianggap tidak memiliki nilai komersial yang tinggi.

Prof. Nia juga memperkenalkan sistem identifikasi bernama TAXVERTREE, yang menggabungkan data morfologi, genetika, dan filogeni untuk memetakan sebaran dan karakteristik spesies ular berbisa. 


Sistem ini penting tidak hanya untuk pengembangan obat, tetapi juga untuk penegakan hukum perdagangan satwa liar. 

DNA ular yang digunakan dalam produk fesyen bisa ditelusuri asalnya, sehingga dapat membantu melindungi satwa liar di Indonesia.


"Ironisnya, saat Indonesia membatasi ekspor satwa liar, negara lain seperti Malaysia dan Singapura justru menjadi eksportir utama, meski mereka tidak memiliki habitat alami sebanyak Indonesia," jelas Prof. Nia. 


Dia menekankan pentingnya regulasi pemerintah untuk mendukung riset antibisa agar ketersediaan obat ini dapat terjamin dalam fasilitas kesehatan.

"Jika ada anggota keluarga kita yang meninggal karena gigitan ular, bukankah kita seharusnya menyadari pentingnya antibisa ini?" tutupnya dengan penuh makna.

library_books Arif Rahman Hakim