Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Festival Paralayang Internasional di Kota Batu: Olahraga dan Diplomasi

KOTA BATU – Festival Paralayang Internasional yang dikenal dengan nama Batu International Sport Tourism Festival (BISTF) 2025 berlangsung dari tanggal 17 hingga 20 Juli 2025. Festival ini berlangsung di langit Gunung Banyak dan menampilkan atlet-atlet dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Thailand.

Event ini diadakan oleh Dinas Pariwisata Kota Batu bekerja sama dengan Pengurus Provinsi Paralayang Jawa Timur. 

Sebanyak 83 atlet berkompetisi dalam festival ini, yang mengambil tempat di area take off Gunung Banyak dan landing di lapangan Songgomaruto, Kelurahan Songgokerto.

Ketua Panitia BISTF, Matur Husairi, menjelaskan bahwa festival ini bukan hanya sekadar kompetisi, tetapi juga sebagai promosi untuk memperkenalkan keindahan alam dan potensi wisata Kota Batu. 

"Ini bukan semata kompetisi, tapi juga bentuk promosi kekayaan alam dan potensi wisata Kota Batu," ucapnya, saat pembukaan festival.

Festival BISTF 2025 menekankan pendekatan multidimensi. Selain aspek kompetisi, festival ini juga bertujuan untuk memperkuat citra Kota Batu sebagai destinasi unggulan dalam sport tourism, baik di Jawa Timur maupun Indonesia.

Kolonel Komandan Donal Fariton, Ketua FASI Provinsi Jawa Timur, menekankan pentingnya keselamatan dalam olahraga dirgantara. 

"Sekecil apa pun kesalahan bisa berakibat fatal. Maka keselamatan adalah yang utama, bukan hanya bagi atlet, tapi juga panitia," ungkapnya, kepada para peserta dan official.

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menilai bahwa festival seperti ini memiliki dampak besar terhadap perekonomian lokal. 

"Kalau rutin diadakan, dampaknya luar biasa. Hotel terisi, kuliner hidup, UMKM laris," katanya. 

Heli juga menambahkan bahwa para atlet dapat membawa keluarga mereka saat mengikuti festival ini.

Festival ini juga dianggap sebagai medium untuk diplomasi budaya dan ekonomi antarbangsa. 

"Kegiatan ini bukan sekadar festival olahraga, tapi juga bentuk diplomasi budaya dan ekonomi. Langit Batu menjadi penghubung kita semua." imbuhnya.

Dengan adanya komitmen yang kuat dari berbagai pihak, diharapkan BISTF akan terus menarik perhatian atlet dan wisatawan dari seluruh dunia serta meningkatkan kebanggaan terhadap potensi lokal yang mendunia.(gus)*

library_books Agus Susanto / Bistf 2025