Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

UKWK Gandeng Yayasan Bakti Luhur-Lindungi Hak Cipta Batik Tulis melalui E-Katalog

UMKM – Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang menjalin sinergi strategis dengan Yayasan Bakti Luhur untuk melindungi kekayaan intelektual dan mempromosikan Batik Tulis Bakti Luhur melalui pengembangan e-katalog digital. Kolaborasi ini bertujuan memberikan pendampingan hukum sekaligus meningkatkan daya saing produk batik di kancah global.

Dr. Diah Imaningrum Susanti, S.H., M.Hum., M.Pd., Dekan Fakultas Hukum UKWK Malang, mengungkapkan bahwa pihaknya memberikan bantuan komprehensif mencakup penataan pembukuan, pengelolaan media sosial, dan pendampingan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

"Kami bekerja sama dengan Universitas Katolik Sugiyopranoto Semarang untuk mempromosikan batik melalui e-katalog, memudahkan turis asing memilih motif yang mereka inginkan," jelas Diah dalam keterangan resminya.

Lebih dari sekadar aspek bisnis dan hukum, kolaborasi ini juga menyentuh aspek lingkungan. "Kami akan memberikan literasi lingkungan mengingat selama ini limbah batik dibuang di tanah kosong. Ini menjadi perhatian serius kami," tegas Diah.

Batik Tulis Bakti Luhur memiliki keunikan dalam proses produksinya. Mengawali dengan pembuatan sketsa, para pengrajin memanfaatkan lilin putih dari limbah yang diambil dari Gua Maria dengan melibatkan anak-anak muda gereja secara periodik.

"Pengambilan limbah di Gua Maria ini menjadi bagian dari komitmen komunitas dalam memproduksi batik yang berkelanjutan," ujar Diah.

Kerja sama yang telah berjalan hampir satu tahun ini diharapkan dapat semakin mengenalkan Batik Tulis Bakti Luhur yang tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga menjadi upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.

Muryanti, salah satu pengrajin senior Yayasan Bakti Luhur, membagikan perjalanannya sejak mengikuti kursus membatik pada 1985-1986. "Setelah tiga bulan kursus, saya langsung dipercaya mengembangkan bakat karena sudah menguasai seluruh proses pembuatan batik tulis," kenangnya.

Dia menjelaskan bahwa untuk menghasilkan batik tulis berkualitas tinggi diperlukan waktu satu hingga tiga bulan. "Desain disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pengrajin," tambah Muryanti.

Batik Tulis Bakti Luhur telah memproduksi berbagai motif unggulan seperti Parangtritis, Kawung, Kas Malang, dan motif Jogja. Ciri khas batik Malang terletak pada warna cerah yang mencolok, dengan harga jual berkisar antara Rp250.000 hingga Rp400.000 per meter.

Produk batik ini telah menembus pasar internasional, diminati wisatawan dari Australia, Prancis, Belanda, Jepang, dan Singapura. Prestasi membanggakan lainnya adalah ketika Batik Tulis Bakti Luhur terpilih sebagai kado ulang tahun untuk DPR.

"Berkat talenta yang dikembangkan, saya kerap diundang ke berbagai kota termasuk Jakarta, Bandung, dan Surabaya untuk mempromosikan batik kami," pungkas Muryanti dengan bangga.

Kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan pelaku usaha ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan usaha mikro yang berkelanjutan, melestarikan warisan budaya, sekaligus melindungi hak intelektual karya anak bangsa.(mul)*

library_books Slamet Mulyono