Ekonomi – Dinas Peternakan Kabupaten Jombang keluarkan peringatan dini kepada peternak unggas, khususnya peternak ayam broiler, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Fluktuasi suhu yang drastis dinilai dapat memicu stres panas (heat stress) pada ternak dan berpotensi menyebabkan kerugian ekonomis yang signifikan.
Kepala Dinas Peternakan Jombang, M. Saleh, menekankan pentingnya manajemen iklim mikro dalam kandang sebagai strategi antisipasi.
"Peternak di sentra produksi seperti Mojowarno harus cerdas membaca pola cuaca. Investasi dalam sistem ventilasi dan manajemen pemeliharaan yang presisi menjadi kunci menghadapi ketidakpastian iklim saat ini," tegas Saleh, Sabtu (22/11/2025).
Menurut Saleh, ayam broiler menunjukkan kerentanan tinggi terhadap perubahan suhu terutama pada fase doc (day old chicken) dan masa menjelang panen. "Perubahan suhu drastis dapat menurunkan nafsu makan, melemahkan imunitas, hingga menyebabkan kematian mendadak. Dampak finansialnya sangat signifikan bagi peternak," paparnya.
Samsul Ma'arif, peternak dari Desa Grobogan, membenarkan tantangan yang dihadapi.
"Cuaca sekarang benar-benar tidak bisa ditebak. Dari panas terik tiba-tiba berubah hujan lebat yang membuat suhu drop drastis. Kekhawatiran terbesar kami adalah heat stress yang bisa merusak performa ternak," ujarnya.
Heat stress pada ayam broiler ditandai dengan gejala perilaku seperti terengah-engah, peningkatan konsumsi air, dan penurunan nafsu makan.
"Dampaknya langsung terlihat pada pertumbuhan yang terhambat, memburuknya Feed Conversion Ratio (FCR), dan ketidakcapaian target bobot panen," jelas Samsul.
Faktor kritis seperti suhu, kelembaban, dan sirkulasi udara dalam kandang menjadi parameter yang harus terus dipantau. Ketidakmampuan mengendalikan faktor-faktor ini berpotensi menurunkan produktivitas hingga 15-20%.
Dinas Peternakan Jombang merekomendasikan penerapan teknologi kontrol iklim kandang dan manajemen pakan yang adaptif sebagai solusi jangka panjang.
"Disiplin dalam pengelolaan suhu kandang mutlak diperlukan. Dengan pendekatan yang tepat, kami yakin peternak dapat mempertahankan kualitas produksi meski di tengah ketidakpastian cuaca," pungkas Saleh.
Peringatan ini menjadi pengingat pentingnya transformasi menuju peternakan berbasis iklim yang resilient, mengingat frekuensi cuaca ekstrem diprediksi akan semakin meningkat di masa mendatang.(elk)*
#peternakayam#cuacaextrem#stres#kabardaerah