Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Hiburan di Kampung Warna-Warni Jodipan, Ubah Estetika Seni Pertunjukan Menjadi Produk

Seni Budaya – Tiga kampung tematik di sepanjang bantaran Kali Brantas – Kampung Keramik Dinoyo, Kampung Gerabah Penanggungan, dan Kampung Warna-Warni Jodipan – tampak hidup dan semarak pada Rabu (26/11/2025). Geliat ini merupakan tindak lanjut dari FGD yang difasilitasi Disporapar Kota Malang pada Senin lalu dengan tema "Menjemput Wisatawan Gen Z".

Syamsul Arifin, Ketua Kampung Keramik Dinoyo, mengungkapkan antusiasme pengunjung. "Hari ini ada 70 rombongan anak SMP Tamiriyah Surabaya yang praktik membuat karya keramik, sekaligus mahasiswa dari ITN dan Ummuh Surabaya yang memetakan proses pengolahan keramik dan potensi edukasinya," papar Syamsul. Kunjungan ini menunjukkan minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional yang mulai langka.

Sementara itu, Kampung Gerabah Penanggungan kedatangan mahasiswa dari UB, UMM, UM, dan Widyagama. Haryono, Ketua Kampung Gerabah Penanggungan yang juga satu-satunya seniman gerabah paling eksis di Kota Malang, menjelaskan semangat pelestarian yang diusung. "Pengrajin gerabah tinggal satu kelompok 4-6 orang saja. Meski tren wadah modern mendominasi, kini banyak yang kembali menggunakan gerabah sebagai properti dan dekorasi," ungkap Haryono.

Suasana berbeda terlihat di Kampung Warna-Warni Jodipan, dimana mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Tari dan Musik UM menggelar "Slakec" (Slametan Kecil-kecilan). Di bawah bimbingan Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn., mereka menampilkan pertunjukan tari dengan busana ala Korea yang berhasil menyedot perhatian wisatawan mancanegara.

Agus Kodar, Ketua Kampung Warna-Warni Jodipan, menyebutkan biasanya wisatawan asing harian mencapai 200-300 orang. "Karena ada penampilan mahasiswa, mereka terlibat menari bersama. Suasana jadi sangat seru dan meriah," tutur Agus.

Terpisah di Kampung Budaya Polowijen, dua kelompok dari UM dan UB langsung terlibat dalam aktivitas "pawon" (dapur) sebagai bagian dari program sambang kampung sinau budaya. 

Kolaborasi antara akademisi dan komunitas ini membuktikan bahwa kampung tematik tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga living laboratory yang terus berkembang.

Kebangkitan tiga kampung tematik ini menunjukkan potensi besar pengembangan wisata berbasis komunitas yang autentik, sekaligus menjadi jawaban atas tantangan menjemput wisatawan Generasi Z yang menginginkan pengalaman berwisata yang meaningful dan instagramable.(df)*

library_books Dafa Wahyu Pratama