Kanselir Jerman, Olaf Scholz, mengkritik dukungan yang diberikan oleh pengusaha teknologi asal Amerika, Elon Musk, untuk partai sayap kanan, Alternative for Germany (AfD). Kritik ini muncul menjelang pemilihan mendatang yang akan berlangsung pada bulan Februari.
Dalam sebuah kampanye di Berlin, Scholz menegaskan bahwa ia "menolak" dukungan Musk terhadap AfD. Pernyataan tersebut muncul setelah Musk beberapa kali menunjukkan dukungannya, termasuk mengklaim di platform media sosial X bahwa AfD adalah "percikan harapan terakhir untuk negara ini".
Sebagai informasi, AfD adalah partai politik yang dikenal karena pandangan nasionalis dan anti-imigran yang kuat. Dukungan Musk untuk partai ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak di Jerman, di mana masyarakat sangat memperhatikan isu-isu politik dan sosial.
Hubungan antara Scholz dan Musk semakin memanas setelah Musk menyebut Scholz sebagai "bodoh" setelah keruntuhan pemerintahan koalisinya pada bulan November 2023. Scholz merespons dengan tenang dan menyatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Jerman, Stern, bahwa ia harus "tetap tenang". Ini adalah pertama kalinya Scholz secara langsung menyebut nama Musk dalam pernyataannya.
Scholz juga menyarankan bahwa komentar Musk mungkin berasal dari ketidakpuasan bisnis. "Tidak ada rahasia bahwa Tesla menentang pendanaan pemerintah untuk stasiun pengisian listrik di Jerman," tambahnya.
Selain itu, Scholz juga menegaskan bahwa laporan dari anggota oposisi CDU yang mengatakan bahwa ia berencana untuk bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, adalah "klaim yang salah". Ia menekankan bahwa ia masih tertarik pada solusi diplomatik untuk konflik yang terjadi di Ukraina.
Pemilu mendatang di Jerman diharapkan akan menjadi momen penting bagi politik negara, di tengah meningkatnya ketegangan internasional dan kebutuhan untuk menyelesaikan berbagai masalah domestik. Dalam konteks ini, pernyataan dan tindakan tokoh-tokoh penting seperti Scholz dan Musk akan terus mendapat perhatian besar dari masyarakat.
Olaf Scholz Elon Musk AfD pemilu Jerman politik Ukraina