Menurut survei terbaru dari YouGov pada tahun 2024, hanya 8% orang Inggris yang bertemu pasangan mereka saat ini atau yang terbaru melalui aplikasi kencan. Meskipun angka tersebut terbilang rendah, banyak orang merasa bahwa seolah-olah semua orang sekarang bertemu pasangan melalui aplikasi.
Para ahli mengatakan bahwa hal ini terjadi karena hubungan yang terbentuk melalui aplikasi kencan masih terbilang baru dan menarik, sehingga terlihat lebih umum daripada yang sebenarnya. Namun, pandangan ini bisa menciptakan harapan yang tidak realistis, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kekecewaan saat kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Para profesional hubungan menggambarkan aplikasi kencan sebagai “campuran” atau bahkan “pedang bermata dua”. Di satu sisi, aplikasi ini bisa menjadi sumber yang baik untuk menemukan koneksi santai atau bahkan pasangan hidup. Namun, di sisi lain, pengguna juga menghadapi masalah seperti ghosting (diabaikan tanpa penjelasan), breadcrumbing (memberi harapan palsu), dan tren menyedihkan lainnya. Kekecewaan yang berulang dapat menyebabkan kecapekan dalam berkencan, membuat orang merasa tidak terlihat, tidak dicintai, atau putus asa tentang cinta.
Untuk menghindari ketergantungan pada aplikasi kencan, para ahli menyarankan untuk memperluas pendekatan dalam berkencan. Perlakukan aplikasi sebagai salah satu dari banyak alat yang tersedia. Cobalah untuk menjelajahi peluang di dunia nyata seperti acara kencan langsung, terlibat dalam hobi, atau sekadar berusaha untuk lebih ramah dalam interaksi sehari-hari.
Dengan cara ini, diharapkan orang dapat menemukan cinta dengan cara yang lebih bervariasi dan tidak hanya bergantung pada aplikasi kencan saja.
survei aplikasi kencan pasangan Inggris hubungan