Mahkamah Agung Jerman (BGH) sedang mempertimbangkan apakah sandal Birkenstock dapat dianggap sebagai karya seni. Kasus ini muncul setelah Birkenstock menggugat beberapa pesaing, termasuk Tchibo, karena memasarkan sepatu yang mirip dengan model-model populernya.
Birkenstock, yang terkenal dengan sandal khasnya yang memiliki sol dari gabus, mengklaim bahwa desain sandal mereka memiliki nilai artistik. Jika BGH memutuskan bahwa sandal ini memang merupakan bentuk seni terapan, Birkenstock akan mendapatkan hak cipta atas model-model yang dipermasalahkan. Dengan hak cipta, mereka bisa melarang pesaing untuk meniru sandal tersebut secara legal.
Sebelumnya, pengadilan yang lebih rendah di Koln menolak argumen dari Birkenstock. Para hakim di sana berpendapat bahwa sandal tersebut tidak memenuhi definisi hukum sebagai karya seni dan Birkenstock tidak dapat membuktikan adanya pencapaian artistik dalam desainnya.
Namun, pengacara yang mewakili Birkenstock bertekad untuk membawa kasus ini ke pengadilan yang lebih tinggi demi mendapatkan penilaian lebih lanjut. Hak cipta memberikan hak eksklusif kepada pencipta untuk menggunakan karyanya, dan perlindungan ini berlangsung selama 70 tahun setelah kematian pencipta.
Keputusan BGH nantinya bisa berdampak besar bagi industri sepatu, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksi sandal serupa. Masyarakat pun menunggu dengan antusias keputusan yang akan diambil oleh mahkamah ini, yang bisa menandakan apakah sandal Birkenstock benar-benar dianggap sebagai karya seni atau tidak.
Birkenstock sandal karya seni mahkamah Jerman