Fenomena baru muncul di kalangan pekerja jarak jauh, yang dikenal sebagai "Quiet Fridays" atau "Jumat Santai". Di masa lalu, hari Jumat sering dianggap sebagai hari terakhir sebelum akhir pekan, namun kini banyak pekerja jarak jauh yang menggunakan hari ini sebagai waktu pribadi. Hal ini terjadi setelah pandemi yang mengubah cara orang bekerja.
Sejak pandemi, banyak pekerja merasa kelelahan atau burnout. Kelelahan ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi dan pemutusan hubungan kerja yang terjadi di banyak perusahaan. Semakin banyak orang yang memilih untuk mengutamakan kesehatan mental dan perawatan diri daripada impressi kepada bos dengan jam kerja yang panjang.
Meskipun kehadiran di kantor mulai meningkat, hari Jumat tetap menjadi hari yang paling tidak populer untuk berangkat kerja. Banyak pekerja yang memilih untuk tidak berkomitmen penuh pada hari ini, dan lebih memilih untuk bekerja dengan cara yang lebih santai. Amanda Hoover dari Business Insider melaporkan bahwa bagi banyak pekerja, huruf "W" dalam WFH (Work From Home) seolah-olah menjadi tanda kutip.
Dengan fenomena ini, banyak pekerja jarak jauh yang secara diam-diam menciptakan akhir pekan tiga hari setiap minggu. Ini menunjukkan perubahan besar dalam cara orang memandang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pekerja semakin menyadari pentingnya waktu untuk diri sendiri, terutama di akhir pekan.
Dengan semakin banyaknya orang yang memilih untuk bekerja dari rumah, "Quiet Fridays" menjadi cara bagi mereka untuk mengurangi stres dan menemukan kembali keseimbangan dalam hidup. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pekerjaan jarak jauh memberikan fleksibilitas, pekerja tetap butuh waktu untuk beristirahat dan merawat diri mereka.
Quiet Fridays pekerja jarak jauh burnout self-care