Homs, Suriah – Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad, kawasan Zahra, yang merupakan lingkungan Alawi di pinggiran Homs, mengalami situasi yang tegang. Masyarakat setempat kini menerapkan "jam malam" yang tidak tertulis. Ketakutan ini muncul seiring dengan meningkatnya kekuasaan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), yang menjadi penguasa baru di wilayah tersebut.
Warga Alawi di Zahra merasa tidak aman untuk keluar rumah setelah matahari terbenam. HTS telah mendirikan pos pemeriksaan di berbagai titik di Zahra dan lingkungan Alawi lainnya. Mereka melakukan pencarian dari rumah ke rumah dan menahan orang tanpa memberi tahu keluarga mereka. Menurut HTS, mereka sedang mencari "sisa-sisa" pemerintah sebelumnya, yang telah mengakibatkan ratusan orang ditangkap.
Abu Khaled, seorang anggota Layanan Keamanan Umum HTS, menjelaskan bahwa tindakan mereka bukanlah untuk menyakiti orang secara sembarangan. "Kami di sini untuk memulihkan keamanan, melindungi masyarakat, dan menegakkan hukum. Kami tidak ingin memaksakan apa pun kepada siapa pun; kami ingin hidup berdampingan dengan semua orang," ujarnya.
Komunitas Alawi, yang terdiri dari sekitar 10 persen dari total populasi Suriah, merasa terancam. Banyak di antara mereka yang merupakan pendukung setia Bashar al-Assad beserta keluarganya dan sejumlah anggota senior pemerintahan serta angkatan keamanan. Ketakutan akan pembalasan dari otoritas baru di Suriah semakin mendalam, terutama di kalangan warga Alawi.
Meskipun demikian, HTS menegaskan bahwa semua kelompok minoritas harus dihormati dan dilindungi. Dalam situasi yang semakin tegang ini, masyarakat Zahra berharap agar keamanan dan ketenangan dapat segera kembali, sehingga mereka bisa beraktivitas tanpa rasa takut.
Homs Alawi Bashar al-Assad HTS keamanan