Pakar Kebijakan Publik Soroti Usulan Program Makan Bergizi Gratis
JAKARTA – Achmad Nur Hidayat, seorang pakar kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, memberikan kritik terhadap usulan Anggota Komisi IX DPR yang ingin membiayai Program Makan Bergizi Gratis dengan menggunakan dana dari cukai rokok. Menurutnya, langkah ini berpotensi memunculkan sejumlah masalah mendasar.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada hari Sabtu, Hidayat mengatakan bahwa menggunakan dana dari cukai rokok untuk mendanai program gizi bagi anak-anak adalah sebuah kontradiksi moral yang tidak bisa diabaikan. "Rokok adalah salah satu penyebab utama berbagai masalah kesehatan di Indonesia, termasuk penyakit paru-paru, jantung, dan kanker," ujarnya.
Hidayat menjelaskan bahwa meskipun tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesehatan anak-anak melalui asupan gizi yang lebih baik, namun sumber dana yang diambil dari cukai rokok justru dapat menciptakan pertentangan. Hal ini karena rokok sendiri merupakan produk yang dapat merusak kesehatan.
Dia menambahkan, pemerintah seharusnya mencari sumber pendanaan lain yang lebih sesuai dan tidak bertentangan dengan upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. "Mengandalkan dana dari produk yang berbahaya bagi kesehatan untuk program kesehatan adalah langkah yang tidak tepat," tegas Hidayat.
Dengan adanya kritik ini, diharapkan para pembuat kebijakan dapat mempertimbangkan kembali usulan tersebut dan mencari solusi yang lebih baik untuk mendukung kesehatan anak-anak di Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat berjalan dengan baik tanpa melibatkan sumber dana yang dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia memang telah berupaya meningkatkan gizi anak-anak melalui berbagai program. Namun, langkah-langkah ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menciptakan masalah baru di kemudian hari.
Program Makan Bergizi Cukai Rokok Achmad Nur Hidayat Kesehatan Anak DPR