DeepSeek, perusahaan yang baru berdiri pada tahun 2023, kini menjadi sorotan setelah merilis model bahasa besar (large language model) mereka, DeepSeek-R1, minggu lalu. Sebagai pesaing ChatGPT dari OpenAI, DeepSeek bertujuan untuk mengembangkan alat pemrosesan bahasa alami. Namun, perusahaan ini juga menghadapi berbagai tantangan yang menanti di depan.
Salah satu keunggulan dari model DeepSeek adalah sifatnya yang open-source, yang berarti bahwa setiap pengembang AI dapat menggunakannya. Ini berbeda dengan versi terbaru ChatGPT yang lebih tertutup. Hal ini membuat DeepSeek menarik perhatian banyak investor karena biaya pengembangannya yang jauh lebih rendah. Menurut laporan penelitian yang dirilis oleh DeepSeek, biaya untuk membangun model DeepSeek-V3 hanya sekitar Rp 85 miliar ($5,6 juta).
Biaya yang rendah ini menjadi perbandingan yang mencolok dengan banyak perusahaan di Amerika Serikat, yang menghabiskan belasan miliar dolar untuk perangkat keras AI. Penyebabnya, investor mulai meragukan anggaran besar yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi AI saat ini.
Di sisi lain, saham perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, Marvell Technology, dan Broadcom mengalami penurunan tajam pada hari Senin. Ini adalah bagian dari penurunan keseluruhan di sektor teknologi dan indeks pasar S&P 500. Penurunan ini menunjukkan adanya ketidakpastian di pasar yang lebih luas.
Pada saat yang sama, DeepSeek juga harus menghadapi tantangan dari dalam. Pada hari Senin, mereka dilaporkan mengalami serangan hacker dan tuduhan terkait penyensoran. Masalah ini bisa mempengaruhi reputasi dan kepercayaan pengguna terhadap perusahaan yang baru berkembang ini.
Dengan banyaknya tantangan yang dihadapi, serta potensi besar yang dimiliki, masa depan DeepSeek masih menjadi tanda tanya. Apakah mereka dapat mengatasi masalah ini dan bersaing dengan raksasa teknologi lainnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
DeepSeek ChatGPT AI teknologi investasi