Perang yang terjadi di Ukraina telah menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar. Para ilmuwan memperkirakan bahwa kerusakan yang ditimbulkan akibat perang ini mencapai lebih dari 70 miliar Euro. Kerusakan tersebut mencakup hutan yang terbakar, pencemaran air, serta ancaman terhadap berbagai spesies hewan.
Para aktivis lingkungan menyebut situasi ini sebagai ökozid, yaitu kerusakan massal terhadap sumber daya alam. Beberapa dampak yang tercatat dari perang ini antara lain peningkatan lalu lintas perbatasan sipil dan militer, yang berujung pada pencemaran lingkungan. Selain itu, peningkatan polusi udara dan emisi CO2 juga menjadi masalah serius.
Salah satu contoh yang mencolok adalah kematian lumba-lumba di laut Hitam. Sekitar 80 spesies hewan di Ukraina terancam punah, termasuk bison, lynx, dan beruang coklat. Pertempuran yang terjadi juga mengakibatkan kebakaran hutan dan pencemaran tanah, serta menciptakan zona kematian akibat ranjau darat.
Masalah lainnya yang semakin meningkat adalah tumpahan minyak. Di bulan Desember, dua kapal tanker minyak Rusia mengalami kecelakaan di laut, dekat semenanjung Krim yang dianeksasi oleh Rusia. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, sekitar 2.400 ton minyak berat telah tumpah ke laut. Sejak kecelakaan tersebut, lebih dari 147.000 ton pasir dan tanah yang tercemar minyak telah diangkut dari pantai.
Kecelakaan ini telah menyebabkan kematian ratusan burung dan banyak makhluk laut. Para aktivis lingkungan mengkhawatirkan bahwa pencemaran ini bisa bertahan selama bertahun-tahun, karena minyak cenderung membentuk gumpalan dan tenggelam di dasar laut. Ukraina mengklaim bahwa Rusia gagal dalam mengatasi masalah tumpahan minyak ini.
Di luar wilayah perang, risiko terjadinya bencana lingkungan juga meningkat, menunjukkan bahwa dampak dari konflik ini tidak hanya terbatas pada daerah yang terkena langsung.
perang Ukraina kerusakan lingkungan ekosistem hewan minyak