Hamas, kelompok militan Palestina, mengumumkan bahwa mereka menunda pelepasan sandera Israel hingga pemberitahuan lebih lanjut. Penundaan ini terjadi karena Hamas mengklaim bahwa Israel tidak mematuhi syarat-syarat dalam perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.
Juru bicara sayap militer Hamas, Abu Obeida, menyatakan bahwa sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari, Israel telah menghambat pemulangan warga Palestina yang terpaksa mengungsi ke Gaza Utara. Selain itu, mereka juga menargetkan warga Gaza dengan serangan artileri dan tembakan senjata, serta menghalangi bantuan untuk masuk ke wilayah tersebut.
Sebelumnya, lebih banyak sandera Israel dijadwalkan untuk dilepaskan pada hari Sabtu sebagai imbalan atas pembebasan puluhan tahanan Palestina. Namun, Abu Obeida menegaskan bahwa tidak ada sandera yang akan dilepaskan hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, merespons penundaan ini dengan mengatakan bahwa tindakan Hamas adalah pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata. "Pengumuman Hamas untuk menghentikan pelepasan sandera Israel adalah pelanggaran lengkap terhadap perjanjian gencatan senjata dan kesepakatan untuk melepaskan sandera. Saya telah memerintahkan IDF [militer] untuk bersiap siaga pada tingkat tertinggi untuk menghadapi skenario apapun di Gaza," kata Katz dalam sebuah pernyataan.
Konflik antara Israel dan Hamas telah berlangsung lama dan selalu melibatkan banyak tindakan saling serang. Gencatan senjata adalah upaya untuk mengurangi ketegangan dan memberikan kesempatan bagi bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah yang terdampak. Namun, jika salah satu pihak merasa dirugikan, situasi bisa kembali memanas.
Dengan penundaan ini, banyak yang berharap agar kedua belah pihak dapat menemukan jalan damai dan menghormati perjanjian yang telah dibuat.
Hamas sandera Israel gencatan senjata Gaza