Israel baru saja menjual obligasi atau surat utang senilai USD5 miliar, yang setara dengan Rp82 triliun. Penjualan ini bertujuan untuk memperkuat neraca keuangan negara setelah lebih dari 16 tahun terlibat dalam konflik.
Menurut laporan dari Bloomberg pada Rabu, 12 Februari 2025, penjualan obligasi ini dilakukan dalam dua bagian. Bagian pertama adalah obligasi senilai USD2,5 miliar yang akan jatuh tempo dalam lima tahun. Bagian kedua juga senilai USD2,5 miliar, namun akan jatuh tempo dalam sepuluh tahun.
Sumber yang mengetahui proses tersebut menyatakan bahwa obligasi ini dihargai dengan spread masing-masing 120 basis poin untuk yang lima tahun dan 135 basis poin untuk yang sepuluh tahun di atas Treasury AS.
Bulan lalu, pejabat keuangan Israel telah mengadakan pertemuan dengan para investor di Inggris dan Amerika Serikat. Pertemuan ini merupakan bagian dari persiapan untuk menerbitkan obligasi baru ini.
Secara umum, Israel biasanya menjual obligasi satu atau dua kali dalam setahun. Kesepakatan terakhir sebelum ini terjadi pada Maret 2024, ketika Israel menerbitkan obligasi senilai USD8 miliar.
Defisit fiskal Israel telah melebar secara signifikan sejak konflik multifront melawan milisi yang didukung Iran dimulai pada Oktober 2023. Namun, gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah dan Hamas telah membantu meredakan dampak ekonomi akibat perang.
Kementerian Keuangan Israel mencatat bahwa defisit anggaran selama 12 bulan terakhir telah turun menjadi 5,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada Januari 2025, dibandingkan dengan 6,9 persen pada bulan Desember 2024.
Dengan langkah ini, Israel berharap dapat memperbaiki kondisi keuangannya dan kembali ke jalur yang lebih stabil setelah periode yang penuh tantangan.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi situs berita resmi atau akun media sosial terkait.
Israel obligasi neraca keuangan defisit fiskal