Riyadh, Arab Saudi – Menlu Amerika Serikat, Marco Rubio, mengadakan pertemuan dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, di Riyadh pada hari Senin. Pertemuan ini berlangsung di tengah berbagai konflik yang melanda dunia, mulai dari Ukraina hingga Gaza, yang ingin ditangani oleh pemerintahan Trump.
Israel, pada hari yang sama, melanjutkan rencananya untuk mengosongkan Jalur Gaza dari penduduk Palestina. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan pembentukan sebuah direktorat yang akan memfasilitasi "imigrasi sukarela" warga Palestina dari Gaza melalui darat, laut, dan udara.
Namun, Arab Saudi dengan tegas menolak rencana tersebut. Setelah ide pengambilalihan AS oleh Trump muncul, Riyadh menegaskan syarat-syaratnya untuk menjalin hubungan normal dengan Israel. Pangeran Mohammed bin Salman menyatakan bahwa hubungan itu hanya bisa terwujud setelah sebuah negara Palestina dibentuk.
Pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebutkan kemungkinan Palestina memiliki negara di kerajaan Arab Saudi, menuai reaksi keras dari media yang dikelola negara Saudi.
Di sisi lain, Saudi Arabia juga berperan sebagai mediator dalam konflik Ukraina. Hal ini menunjukkan bagaimana kebijakan luar negeri AS telah berubah dengan cepat di Eropa Timur. Dengan Trump menjabat dan sekutu-sekutu NATO diabaikan, Riyadh menjadi tempat yang netral bagi Kremlin dan Washington untuk memulai diskusi mengenai akhir perang di Ukraina. Para analis percaya bahwa pembicaraan ini dapat mengubah arsitektur keamanan di Eropa.
Namun, di arena lainnya, Pangeran Mohammed bin Salman ternyata terlibat aktif dan memiliki perbedaan pendapat dengan pemerintahan Trump.
Dengan latar belakang kompleks ini, pertemuan antara Menlu AS dan Pangeran Saudi menjadi sangat penting dalam upaya menyelesaikan konflik-konflik yang melibatkan berbagai pihak.
Menlu AS Pangeran Saudi Gaza Ukraina konflik