Pada bulan Oktober 2023, perang di Gaza dimulai dan menyebabkan banyak kebingungan di seluruh dunia. Banyak orang, terutama di negara-negara Arab, merasa heran karena negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, tampak tidak berdaya untuk menghentikan Israel dan memaksakan gencatan senjata selama lebih dari setahun.
Beberapa orang menyimpulkan bahwa Israel mengendalikan Amerika Serikat, atau bahwa AS terlalu lemah untuk mengontrol Israel. Namun, tindakan Israel sebenarnya sejalan dengan kepentingan AS, yang saat ini sedang menghadapi tantangan global dan regional.
Ekonomi AS pada puncak Perang Dingin menyumbang 40 persen dari PDB global. Namun, angka tersebut kini telah berkurang setengahnya, sementara kontribusi ekonomi China meningkat dari kurang dari dua persen menjadi hampir 20 persen. Diperkirakan, China akan segera mengalahkan ekonomi AS.
Selain itu, kebangkitan Rusia sebagai kekuatan militer di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, serta perluasan pengaruh strategisnya, telah semakin melemahkan dominasi unipolar yang pernah dinikmati oleh AS.
Dalam menghadapi tantangan ini, elit penguasa AS, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, merespon dengan diplomasi yang lebih agresif, perang dagang, dan intervensi militer untuk memperkuat dominasi mereka dan melemahkan pesaing. Hal ini mengakibatkan pelanggaran terhadap garis batas yang telah diakui sebelumnya, serta perubahan aturan keterlibatan.
Di sisi lain, banyak generasi muda di Barat yang semakin peduli dan terpolitisisasi oleh isu Palestina. Gerakan sosial lain, terutama yang berhubungan dengan keadilan iklim, juga mulai menjalin aliansi dengan para pendukung solidaritas Palestina. Konvergensi semacam ini di Barat, yang merupakan pusat dari tantangan ini, belum pernah terlihat dalam skala sebesar ini sejak tahun 1960-an.
Pandangan ini disampaikan oleh Hossam el-Hamalawy, yang merupakan seorang pengamat isu-isu politik dan sosial. Namun, perlu dicatat bahwa pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial dari Middle East Eye.
Gaza perang Hossam el-Hamalawy AS Israel geopolitik