Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Tantangan untuk AS dalam Rencana Pemindahan Gaza

Washington, D.C. – Rencana Amerika Serikat untuk memindahkan penduduk Gaza menghadapi tantangan besar, terutama dari pemerintah Yordania dan Mesir. Kedua negara ini merupakan sekutu penting bagi AS di kawasan Timur Tengah, terutama dalam hubungannya dengan Israel.

Menurut sumber, jika AS mencoba memaksa Yordania dan Mesir menerima rencana pemindahan ini secara sepihak, dampaknya bisa sangat merugikan bagi kepentingan Amerika di kawasan tersebut. Setiap langkah yang diambil untuk memindahkan warga Palestina dalam skala besar dapat melemahkan legitimasi pemerintahan kedua negara ini, baik secara moral maupun politik.

Setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Raja Abdullah II dari Yordania, Gedung Putih merilis video di mana Trump memuji raja tersebut. Ini terjadi hanya 24 jam setelah pertemuan yang dianggap memalukan bagi Raja Abdullah, saat media meliput momen tersebut.

Sebelum pertemuan itu, Trump juga mengancam akan memotong bantuan kepada Yordania dan Mesir jika mereka menolak rencananya. Mesir telah menegaskan kembali penolakannya dan menekankan pentingnya mengakhiri perang serta membangun kembali Gaza tanpa pemindahan penduduk. Menurut laporan, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi bahkan menunda kunjungan ke Gedung Putih untuk menghindari pembicaraan mengenai proposal Trump.

Yordania dan Mesir memiliki tanggung jawab untuk melindungi perbatasan Israel dari serangan dan penyelundupan senjata ke kelompok perlawanan Palestina. Mereka juga berusaha mengekang aktor politik lokal yang menentang hegemoni Amerika dan pendudukan Israel.

Karena warga Palestina di Gaza menolak untuk diusir, kepentingan Yordania dan Mesir adalah memberikan dukungan logistik dan politik kepada mereka. Normalisasi hubungan dengan Israel dan perlindungan perbatasan adalah biaya yang harus dibayar untuk tetap berkuasa, namun saat ini, menggagalkan rencana pemindahan Trump mungkin menjadi satu-satunya strategi yang tersisa bagi kedua rezim ini untuk menghindari kejatuhan politik.

Jika Yordania dan Mesir aktif menentang pemindahan warga Palestina, hal ini, meskipun bersifat untuk kepentingan diri sendiri, akan memaksa AS untuk membuat keputusan sulit. Apakah konsekuensi dari melemahkan sekutu terbesarnya di kawasan demi memenuhi keinginan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepadan? Pertanyaan ini kini menjadi perhatian utama dalam politik kawasan.

library_books Middleeasteye