Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Ukraina "bisa saja membuat kesepakatan" dengan Rusia untuk mengakhiri perang lebih awal. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan kekecewaannya karena negaranya tidak diundang dalam pembicaraan antara Menlu AS, Marco Rubio, dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, yang berlangsung di Riyadh pada hari Selasa.
Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk menunjuk tim negosiator yang akan mulai berdiskusi mengenai akhir perang. Namun, Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyetujui kesepakatan damai yang diusulkan oleh AS dan Rusia tanpa keterlibatannya.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa setiap kesepakatan yang dihasilkan harus melibatkan dukungan dari AS agar Rusia tidak dapat melancarkan invasi ke Ukraina di masa depan.
Di Eropa, para duta besar Uni Eropa telah menyetujui putaran sanksi baru terhadap Rusia, termasuk larangan impor aluminium utama dari Rusia. Sanksi ini bertujuan untuk memberikan tekanan lebih lanjut kepada pemerintah Rusia terkait tindakan agresifnya terhadap Ukraina.
Pernyataan dari Trump dan perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa situasi antara Ukraina dan Rusia terus memanas, dan upaya untuk mencapai perdamaian masih jauh dari kenyataan.
Trump Ukraina Rusia perdamaian sanksi