Gaza, 26 Februari 2025 - Lima bayi baru lahir di Jalur Gaza yang dilanda perang dilaporkan meninggal dunia akibat cuaca ekstrem yang sangat dingin. Hal ini disampaikan oleh direktur rumah sakit setempat, Saeed Salah, dari Rumah Sakit Amal untuk Pasien.
Pada hari Senin, Salah mengungkapkan kepada media bahwa dalam dua minggu terakhir, departemen perawatan bayi rumah sakit telah menangani sembilan kasus bayi dengan kondisi kesehatan yang parah akibat cuaca yang sangat dingin.
Menurutnya, semua kasus tersebut berasal dari bagian utara Gaza, di mana banyak keluarga tinggal di tenda yang terbuat dari kain bekas dan tidak memiliki pemanas. "Tenda-tenda ini sangat tidak layak dan berada di luar ruangan," tambahnya.
Lima bayi yang meninggal tersebut berusia antara satu hari hingga dua minggu. Salah menjelaskan, "Tiga dari mereka meninggal dalam beberapa jam setelah dirawat. Mereka sangat muda dan beratnya hanya antara 1,7 hingga dua kilogram."
Beberapa bayi yang datang ke rumah sakit juga menunjukkan suhu tubuh yang sangat rendah, mencapai 32 hingga 33 derajat Celsius, yang sangat berbahaya bagi kesehatan mereka.
Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah penundaan dalam pengiriman bantuan kemanusiaan. Sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang dicapai bulan lalu, Israel telah setuju untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ini termasuk pengiriman 60.000 rumah mobile dan 200.000 tenda untuk membantu para pengungsi. Namun, hingga saat ini, Israel hanya mengizinkan pengiriman 20.000 tenda dan beberapa rumah mobile, yang sayangnya tidak ditujukan untuk warga sipil.
Kondisi ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan bantuan bagi warga Gaza, terutama bagi bayi dan anak-anak yang sangat rentan terhadap cuaca ekstrem.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan kemanusiaan bagi mereka yang terdampak konflik dan bencana alam.
Gaza bayi kemanusiaan cuaca dingin perang