Parlemen Amerika Serikat telah mengambil langkah penting dengan menyetujui anggaran baru untuk menghindari kemungkinan penghentian layanan pemerintah, yang dikenal dengan istilah "shutdown". Pada hari Sabtu, setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat, mayoritas di Senat juga memberikan suara untuk mendukung rancangan anggaran yang diajukan oleh Partai Republik. Anggaran ini berlaku hingga akhir tahun anggaran, yang berakhir pada bulan September.
Beberapa senator dari Partai Demokrat, meskipun tidak sepenuhnya setuju, memberikan suara untuk mendukung rancangan tersebut. Mereka merasa terpaksa melakukannya meskipun ada keberatan terhadap kebijakan yang diajukan oleh Presiden Republik, Donald Trump.
Kesepakatan ini, seperti yang sering terjadi dalam negosiasi anggaran di AS, tercapai pada menit-menit terakhir. Tanpa persetujuan ini, layanan pemerintah akan terhenti pada malam hari Sabtu, yang berarti bahwa semua pengeluaran pemerintah akan dihentikan. Hal ini akan membuat beberapa lembaga pemerintah harus menghentikan operasional mereka, dan banyak pegawai negeri tidak akan menerima gaji untuk sementara waktu. Namun, dengan disetujuinya anggaran ini, situasi tersebut dapat dihindari.
Presiden Trump masih perlu menandatangani undang-undang ini agar bisa berlaku, tetapi hal itu dianggap sebagai formalitas yang tidak akan menimbulkan masalah.
Sebelum pemungutan suara, Chuck Schumer, pemimpin minoritas Partai Demokrat di Senat, mengubah pendiriannya dan menyatakan bahwa penghentian layanan pemerintah hanya akan menguntungkan Trump. Schumer juga menuduh Trump dan rekan terdekatnya, pengusaha teknologi Elon Musk, ingin menciptakan kekacauan lebih lanjut untuk mengalihkan perhatian dari agenda mereka. Hal ini diungkapkan Schumer dalam sebuah tulisan di "New York Times" pada malam sebelum pemungutan suara.
Dengan disetujuinya anggaran ini, pemerintah AS kini dapat terus beroperasi tanpa gangguan dan fokus pada berbagai isu yang dihadapi oleh negara.
Parlemen AS anggaran pemerintah Donald Trump shutdown