Ramy Abdu, ketua Euro-Med Human Rights Monitor, mengungkapkan bahwa saudara perempuannya beserta anak-anaknya, Omer dan Layan, adalah bagian dari lebih dari 350 warga Palestina yang tewas dalam serangan udara Israel di Gaza pada Selasa pagi.
Abdu menuliskan di media sosial, "Israel mungkin membunuh kami sesuka hati, membakar kami hidup-hidup, dan merobek kami menjadi bagian-bagian, tetapi mereka tidak akan pernah berhasil mengusir kami dari tanah kami." Ia juga menekankan bahwa "keadilan dan akuntabilitas akan menanti—tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan."
Serangan yang terjadi pada hari Selasa tersebut merupakan salah satu serangan paling mematikan yang pernah terjadi di wilayah Gaza yang terjebak kepungan sejak gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 19 Januari.
Militer Israel menyatakan bahwa mereka siap untuk melanjutkan serangan di Gaza selama diperlukan dan akan memperluas kampanye mereka tidak hanya dengan serangan udara, tetapi juga dengan tindakan lainnya. Mereka kemudian mengeluarkan perintah pengungsian dari berbagai area luas di Jalur Gaza, sebuah langkah yang sering kali mendahului serangan darat yang brutal.
Situasi di Gaza semakin memburuk, dengan banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan keselamatan mereka. Serangan ini menunjukkan betapa rentannya kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut, di mana konflik berkepanjangan menimbulkan dampak besar bagi masyarakat sipil.
Gaza Israel serangan udara Ramy Abdu korban