Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Buku Mencengangkan Mantan Karyawan Facebook tentang Zuckerberg

Seorang penulis dan mantan kepala kebijakan global Facebook, Sarah Wynn-Williams, baru saja menerbitkan buku yang berjudul Careless People: A Cautionary Tale of Power, Greed and Lost Idealism. Dalam bukunya, Wynn-Williams mengungkap sisi lain dari Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, yang jarang diketahui oleh publik.

Wynn-Williams menggambarkan Zuckerberg mirip dengan karakter Kendall Roy dari serial TV, dengan sedikit sifat Roman. Dia menyebut Zuckerberg sebagai "raja muda" yang merasa dirinya paham, tetapi sebenarnya tidak menyadari banyaknya orang yang berusaha mengelola suasana hatinya. Dalam buku tersebut, Wynn-Williams mengungkapkan bahwa Zuckerberg seringkali membuat kebijakan secara sembarangan, seperti saat ia mengumumkan di PBB bahwa Facebook akan menyediakan Wifi untuk kamp pengungsi, lalu meninggalkan orang lain untuk membereskan masalah yang ditimbulkan.

"Dia sepertinya tidak terlalu peduli," kata Wynn-Williams mengenai sikap Zuckerberg. Ia juga menyamakan Zuckerberg dengan Donald Trump, mantan Presiden AS. Seperti Trump, Zuckerberg menganggap Andrew Jackson, yang dikenal karena Indian Removal Act yang menyebabkan penderitaan banyak orang, sebagai presiden terbaik dalam sejarah AS. Selain itu, Zuckerberg terlihat terpesona oleh kekuatan massa, bertanya kepada timnya apakah mereka bisa mengatur "kerusuhan atau aksi damai" saat ia berkunjung ke Jakarta, di mana tempatnya menginap di hotel mewah digambarkan seperti sebuah benteng.

Sikap Zuckerberg terhadap mantan Presiden Obama juga cukup menarik perhatian. Ia merasa marah ketika Obama mengkritik platform Facebook karena menyebarkan berita palsu selama pemilihan presiden 2016. Dalam konteks ini, fokus utama Zuckerberg setelah pemilihan tersebut adalah untuk memikirkan kemungkinan mencalonkan diri sebagai presiden.

Wynn-Williams menambahkan, "Saya rasa dia mencapai kesimpulan gelap: jika Trump bisa melakukannya, maka dia juga bisa." Menurutnya, Zuckerberg kini tidak hanya memiliki "buku petunjuk" dari Trump, tetapi juga memiliki alat dan kekuasaan untuk mengatur segala sesuatunya.

Buku ini membawa kita untuk merenungkan tentang kekuasaan, keserakahan, dan hilangnya idealisme, terutama dalam konteks dunia teknologi yang terus berkembang. Dengan sudut pandang dari seorang mantan karyawan, pembaca dapat melihat sisi lain dari sosok yang selama ini dikenal sebagai inovator dalam dunia digital.

library_books Mashable