Mahasiswa dari almamater Ekrem Imamoglu menjadi yang terdepan dalam protes menentang penangkapan Wali Kota Istanbul tersebut. Ketegangan di seluruh Turki diperkirakan akan terus berlanjut setelah keputusan yang mengejutkan pada hari Selasa lalu, ketika gelar Imamoglu dari Universitas Istanbul dicabut. Gelar tersebut merupakan syarat penting untuk mencalonkan diri sebagai presiden.
Pencabutan gelar ini dianggap sebagai langkah awal dalam pekan yang telah menyaksikan beberapa protes jalanan terbesar melawan Presiden Recep Tayyip Erdogan dan partai yang berkuasa, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah.
Pada hari Jumat sore, gubernur Istanbul memerintahkan penutupan Jembatan Galata dan Jembatan Ataturk, yang merupakan jalur utama menuju balai kota dan telah menjadi lokasi demonstrasi malam. Penutupan ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang sedang berlangsung di kota tersebut.
Imamoglu diperkirakan akan terpilih oleh Partai Rakyat Republik (CHP) sebagai kandidat dalam pemilihan presiden mendatang, yang dijadwalkan pada tahun 2028. Pemilihan ini berpotensi menjadi kesempatan bagi Erdogan untuk digantikan setelah memimpin selama 25 tahun.
Namun, bagi banyak mahasiswa, ini hanyalah masalah terbaru dalam daftar panjang tantangan yang mereka hadapi di Turki. Seorang perwakilan dari Ogrenci Dayanismasi (Solidaritas Mahasiswa) Universitas Istanbul, yang memimpin protes, mengungkapkan bahwa mereka tidak sepenuhnya mendukung CHP, yang mereka sebut sebagai partai "kapitalis". Mereka percaya bahwa penangkapan Imamoglu dan pencabutan gelarnya merupakan serangan terhadap demokrasi yang harus dilawan.
Keberanian mahasiswa untuk berdiri melawan keputusan pemerintah menunjukkan semangat juang mereka dalam memperjuangkan keadilan dan demokrasi di negara mereka. Mereka berharap suara mereka akan didengar dan membawa perubahan yang positif di masa depan.
mahasiswa protes Ekrem Imamoglu Istanbul Erdogan