Pada awal bulan ini, sebelum matahari terbit, hampir 200 anak-anak di Gaza tewas dalam serangan udara yang terkoordinasi oleh militer Israel. Mereka kehilangan nyawa di rumah, di tenda, bahkan saat tidur. Beberapa dari mereka ditemukan terbungkus selimut, di bawah atap yang runtuh seperti langit kedua. Kejadian tragis ini menunjukkan betapa rentannya kehidupan anak-anak di daerah konflik.
Wajah-wajah mereka terlihat penuh debu, beberapa tampak terlalu terkejut untuk menangis, sementara yang lain berteriak memanggil nama-nama yang tak lagi menjawab. Dalam situasi yang mengerikan ini, anak-anak yang tersisa harus mengembara sendirian dari satu kuburan ke kuburan lainnya, mencari anggota keluarga mereka yang hilang.
Korban yang tewas disebut sebagai ‘teroris yang dieliminasi’. Namun, tidak ada nama atau usia yang diberikan untuk mereka. Seorang jurnalis Israel, Orly Noy, menyatakan bahwa media telah menerima klaim bahwa tidak ada orang yang tidak bersalah di Gaza. Hal ini menunjukkan bagaimana pandangan publik terhadap anak-anak di wilayah konflik ini dapat terdistorsi.
Sementara anak-anak Gaza menderita dan kehilangan, di Tepi Barat yang diduduki, mereka juga mengalami pengekangan dan penindasan. Pada akhir tahun 2023, dalam pertukaran sandera, beberapa tahanan Palestina, termasuk banyak anak-anak, ditukar dengan para tahanan Israel. Namun, media besar seperti BBC dan The Guardian awalnya tidak menyebut mereka sebagai ‘anak-anak’, melainkan ‘remaja’ atau ‘orang yang berusia 18 tahun ke bawah’. Istilah ini menunjukkan upaya untuk menghapus identitas masa kanak-kanak mereka, yang pada gilirannya menghilangkan rasa simpati terhadap mereka.
Strategi ini bukan sekadar ketidakpedulian retoris. Ini merupakan bagian dari strategi ideologis untuk menggambarkan anak-anak Palestina sebagai ancaman, bukan korban. Jika mereka bukan anak-anak, maka membunuh mereka bukanlah sebuah kejahatan, dan berduka untuk mereka pun tidak diperlukan.
Anak-anak yang selamat mengalami luka fisik dan trauma psikologis. Mereka terus dihantui oleh kenangan teman-teman sekelas yang kini telah tiada. Namun, meskipun dalam keadaan sulit, mereka tetap berjuang untuk hidup. Rakyat Palestina mencintai kehidupan dengan penuh semangat dan keberanian. Mereka terus berpegang pada kehidupan meskipun di tengah asap, puing-puing, dan semua upaya untuk memadamkan semangat mereka.
Gaza anak-anak serangan militer tragedi kematian