Pada hari Selasa, parlemen Jerman yang baru, atau yang dikenal sebagai Bundestag, mengadakan sesi perdana mereka dengan kehadiran partai kanan jauh, Alternative für Deutschland (AfD), sebagai kekuatan kedua terbesar. Hal ini menandai perubahan penting dalam lanskap politik Jerman.
Julia Klöckner, anggota dari partai Christian Democratic Union (CDU), terpilih sebagai presiden Bundestag. Ia merupakan wanita keempat yang menjabat posisi ini sejak 1949. Dalam pidatonya, Klöckner berjanji untuk memastikan bahwa setiap diskusi di parlemen akan berjalan dengan cara yang terhormat dan beradab. "Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang tidak memihak, tenang, dan tanpa rasa takut," ujar Klöckner kepada para anggota parlemen.
Keberadaan AfD di Bundestag telah membuat suasana di dalamnya menjadi lebih panas sejak partai tersebut pertama kali mendapatkan kursi pada tahun 2017. Dalam pemilihan bulan lalu, AfD berhasil meraih posisi kedua dengan mendapatkan 20,8% suara, dan kini memiliki 152 dari total 630 kursi yang ada.
"Ada ukuran yang sangat jelas bagi saya: kesopanan," tambah Klöckner. "Kita harus dapat melakukan dan menahan diskusi yang kontroversial sesuai dengan aturan yang jelas. Saya akan memastikan kita saling berinteraksi dengan cara yang beradab — jika tidak, kita harus belajar melakukannya."
Sebagai presiden Bundestag, Klöckner memegang posisi kedua tertinggi di negara tersebut, setelah Presiden Federal Frank-Walter Steinmeier. Namun, kedua posisi ini sebagian besar bersifat seremonial, dan kekuasaan pengambilan keputusan berada di tangan kanselir dan kabinet.
Saat ini, belum ada kepastian kapan Bundestag akan dapat memilih kanselir baru. Friedrich Merz, pemimpin blok konservatif, masih dalam pembicaraan untuk membentuk koalisi dengan partai SPD yang tengah kiri dan dipimpin oleh kanselir keluar, Olaf Scholz. Merz menekankan bahwa lebih penting untuk mendapatkan kesepakatan koalisi yang tepat daripada terburu-buru dalam proses ini.
Parlemen Jerman Julia Klöckner AfD Bundestag politik