Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Jerman Bantah Klaim Israel soal Pengungsi Palestina

Pemerintah Jerman telah membantah klaim dari Israel yang menyatakan bahwa ratusan warga Palestina dari Gaza telah meninggalkan enclave menuju Leipzig pada hari Selasa. Klaim ini muncul sebagai bagian dari inisiatif yang dianggap sebagai rencana pembersihan etnis oleh mantan Presiden Donald Trump.

Pada hari yang sama, Menteri Dalam Negeri Israel, Moshe Arbel, tiba di Bandara Ramon di selatan Israel. Ia hadir bersama perwakilan dari direktorat pengendalian perbatasan dan otoritas populasi serta imigrasi. Arbel menyatakan, "Saya tiba di sini untuk memantau dan memverifikasi isu keberangkatan sukarela warga Gaza."

Arbel juga mengungkapkan bahwa pada hari itu, telah ada penerbangan khusus yang membawa warga Gaza ke Jerman. Ia menambahkan, "Keberangkatan sukarela ini akan memastikan kemampuan untuk merehabilitasi Gaza." Ia juga mengucapkan terima kasih kepada otoritas populasi dan imigrasi Israel atas kerja keras mereka.

Lebih lanjut, Arbel menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Trump atas inisiatif tersebut, mengatakan, "Bersama-sama kita bisa mengubah daerah ini menjadi surga." Namun, kementerian luar negeri Jerman langsung membantah klaim tersebut.

"Ini salah. Hari ini, 19 warga negara Jerman dan anggota keluarga dekat mereka dipulangkan dari Gaza ke Jerman," bunyi pernyataan yang dirilis di platform X. Kementerian tersebut berterima kasih kepada otoritas Israel atas kerjasama yang erat dalam masalah ini.

Seorang juru bicara kementerian mengungkapkan kepada wartawan pada hari Rabu bahwa jumlah yang sebenarnya adalah 19 warga negara Jerman dan 14 anggota keluarga Palestina yang meninggalkan Gaza melalui perbatasan Kerem Shalom, dan kemudian diterbangkan dari selatan Israel.

"Kami akan senang jika kami bisa melakukan ini lebih awal. Ini memang memakan waktu tertentu," tambah juru bicara tersebut.

Kejadian ini menyoroti ketegangan yang terus berlanjut antara Israel dan Palestina, serta tantangan yang dihadapi dalam isu pengungsi dan rehabilitasi wilayah yang terdampak konflik.

library_books Middleeasteye