Perkembangan teknologi AI (Kecerdasan Buatan) semakin cepat, dan kini banyak digunakan dalam berbagai bidang bisnis. Namun, hal ini juga membawa risiko baru bagi perusahaan, terutama dalam hal keamanan. Tim keamanan perusahaan kini harus menghadapi ancaman dari karyawan yang secara tidak sengaja membagikan informasi rahasia perusahaan ke dalam alat AI.
Risiko ini muncul ketika karyawan mengunggah data sensitif ke platform AI, yang dapat menyebabkan kebocoran informasi penting. Kebocoran ini bisa berdampak negatif pada perusahaan, mulai dari kerugian finansial hingga reputasi yang rusak.
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini datang dari Cyberhaven, sebuah perusahaan yang berbasis di San Jose. Cyberhaven menggunakan alat AI canggih yang dapat memantau aliran data perusahaan. Alat ini bernama Linea AI dan Large Lineage Model (LLiM). Sejak didirikan sembilan tahun yang lalu, Cyberhaven telah mengumpulkan ratusan miliar data yang pernah dicatat dari jaringan pelanggannya.
Dengan menggunakan data yang sangat banyak ini, Cyberhaven dapat menciptakan catatan alur kerja data normal perusahaan. Jika ada masalah yang terdeteksi, seperti data sensitif yang dibagikan kepada model AI pihak ketiga seperti ChatGPT dari OpenAI atau pesaing asal China, DeepSeek, alat ini dapat memberikan peringatan.
Selain itu, Cyberhaven juga dapat memberi tahu tim IT jika ada karyawan yang mengunggah informasi rahasia ke akun penyimpanan cloud yang tidak resmi atau membagikannya di media sosial. Peringatan semacam ini sangat penting untuk mencegah kebocoran data yang dapat merugikan perusahaan.
Dengan adanya alat AI seperti yang dikembangkan oleh Cyberhaven, perusahaan dapat lebih aman dalam mengelola informasi rahasia dan meminimalisir risiko kebocoran data. Penggunaan teknologi canggih ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk melindungi aset terpenting mereka, yaitu informasi.
AI Cyberhaven kebocoran data keamanan informasi rahasia