Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Penelitian Baru: Komputer Dapat Mengubah Pikiran Menjadi Suara

Penelitian Baru: Komputer Dapat Mengubah Pikiran Menjadi Suara

Tim peneliti dari University of California telah mengembangkan sebuah teknologi baru yang menarik, yaitu antarmuka antara otak dan komputer. Dengan menggunakan sistem neuronale KI-Netzwerk, teknologi ini dapat mengenali pikiran seseorang dan mengubahnya menjadi suara dengan cepat. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature Neuroscience pada bulan Maret 2025.

Salah satu orang yang mencoba teknologi ini adalah seorang wanita berusia 47 tahun yang mengalami kesulitan berbicara setelah terkena stroke. Dengan bantuan neuroimplantat dan kecerdasan buatan (AI), wanita tersebut dapat mendengar kata-kata yang ia pikirkan dengan suara aslinya. Suara ini dihasilkan dari rekaman lama yang masih ada dari sebelum ia mengalami stroke.

Menurut RĂ¼diger Rupp, yang memimpin kelompok penelitian Neurorehabilitation di Uniklinik Heidelberg, kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, emosi, keinginan, dan kebutuhan adalah kehilangan kualitas hidup yang sangat besar. "Anda merasa terjebak dalam tubuh Anda sendiri," ujarnya.

Kecepatan dari teknologi baru ini sangat mengesankan. Komputer dapat mengeluarkan suara berdasarkan aktivitas otak wanita tersebut dengan hanya tertunda satu detik. Rupp menyatakan bahwa kecepatan ini sangat penting bagi mereka yang ingin berkomunikasi. "Bayangkan jika Anda ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara Anda muncul lima detik kemudian. Itu akan sangat sulit dalam sebuah percakapan," jelasnya.

Namun, untuk digunakan dalam praktik, sistem ini tidak hanya harus cepat tetapi juga harus bekerja dengan akurat. Sayangnya, sistem baru ini masih memiliki banyak kesalahan. Dalam pengujian lapangan, hingga 40 persen dari kata-kata yang telah dilatih oleh sistem AI salah dikenali. Rupp menjelaskan bahwa kesalahan ini terjadi karena kecepatan tinggi dari sistem. AI harus memprediksi kata yang dimaksud sejak awal kata, pada suku kata pertama. "Bayangkan jika Anda mengetik sebuah pesan di ponsel. Setelah beberapa huruf, ponsel Anda memberikan saran. Banyak kesalahan bisa terjadi pada tahap ini," katanya.

Meski demikian, kecepatan teknologi baru ini memberikan harapan dan perhatian di kalangan ahli. Penelitian ini menunjukkan potensi besar untuk membantu orang yang kehilangan kemampuan berbicara.

library_books Tagesschau