Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Dampak Tarif Tinggi Trump Terhadap Ekonomi Global

Dalam pidato pelantikannya delapan tahun yang lalu, Donald Trump menyebut istilah "American carnage" atau "pembantaian Amerika". Kini, dalam beberapa hari terakhir, ia telah menyebarkan sesuatu yang mirip di seluruh ekonomi dunia.

Tarif tinggi yang diumumkan Trump minggu lalu telah memicu reaksi yang sangat merugikan. Pengumuman tersebut membuat pasar saham bergetar. Menurut pasar berjangka, indeks S&P 500 yang mencakup saham-saham besar Amerika diperkirakan akan mengalami penurunan lagi ketika pasar dibuka hari ini.

Jika penurunan melebihi 4% pada akhir hari, maka ini akan menjadi penurunan terburuk dalam tiga hari terakhir sejak tahun 1987. Ini bahkan lebih buruk dibandingkan dengan masa-masa sulit setelah kebangkrutan Lehman Brothers pada tahun 2008 atau saat pandemi covid-19 melanda.

Di pasar saham lainnya, indeks Hang Seng di Hong Kong mengalami penurunan terburuk dalam satu hari sejak tahun 1997. Banyak orang bertanya-tanya, apakah Trump merasa terganggu dengan keadaan ini?

Dampak dari tarif tinggi ini tidak hanya dirasakan di Amerika, tetapi juga menyebar ke seluruh dunia. Para ekonom khawatir bahwa ini dapat memicu masalah ekonomi yang lebih besar.

Dengan banyaknya tanda kemerosotan di pasar, banyak investor yang merasa cemas. Keadaan ini menunjukkan betapa terhubungnya ekonomi global saat ini.

Sementara itu, Trump tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran. Ia tetap melanjutkan kebijakannya meskipun ada risiko besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pengamat ekonomi dan masyarakat. Apakah tindakan ini akan membawa dampak positif atau justru memperburuk keadaan?

Foto: Getty Images

library_books Theeconomist