Setelah pengumuman tarif yang disebut "Hari Pembebasan" oleh Donald Trump pada 2 April, pasar saham menunjukkan fluktuasi yang sangat signifikan. Dalam tujuh hari perdagangan berikutnya, indeks saham S&P 500 mengalami dua peristiwa besar: kenaikan persentase harian terbesar sejak tahun 2008 dan penurunan persentase harian terjal terbesar sejak tahun 2020.
Selama periode tersebut, dari 2 April hingga 2:45 sore waktu EDT pada hari Jumat, indeks S&P 500 mencatat kerugian sebesar 6%. Ini adalah hasil dari tujuh sesi perdagangan yang penuh gejolak.
Menurut data dari FactSet, sekitar 90% atau 451 dari 500 saham yang terdaftar di S&P mengalami penurunan selama waktu tersebut. Hal ini menunjukkan dampak besar dari kekhawatiran mengenai kemungkinan resesi dan masalah dalam perdagangan internasional yang menjadi tantangan bagi sebagian besar perusahaan.
Fluktuasi ini menggambarkan betapa tidak stabilnya pasar saham saat ini, di mana investor harus menghadapi risiko yang semakin meningkat. Banyak orang mulai bertanya-tanya saham mana yang masih layak untuk dimiliki di tengah kondisi pasar yang tidak menentu ini.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai saham-saham terbaik dan terburuk yang dapat dimiliki selama rollercoaster pasar saham ini, silakan lihat tautan di bio kami.
Foto: Nicolas Economou/NurPhoto via Getty Images
pasar saham Trump tarif S&P 500 ekonomi