Sebuah studi baru yang dipimpin oleh peneliti dari Swiss menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini mampu mendeteksi tuberkulosis (TB) lebih baik daripada para ahli medis. Dalam penelitian tersebut, sebuah alat AI yang menganalisis ultrasound paru-paru mencapai tingkat sensitivitas sebesar 93% dan spesifisitas 81%. Angka-angka ini bahkan melampaui standar tertinggi yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Studi ini menunjukkan potensi besar AI dalam meningkatkan diagnosis penyakit, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber daya medis yang terbatas. Di tempat-tempat tersebut, akses terhadap peralatan medis yang canggih sering kali menjadi tantangan.
Selain itu, terdapat alat lain bernama Swaasa AI yang dapat mendeteksi TB hanya dengan menganalisis suara batuk seseorang. Alat ini tidak memerlukan rontgen, laboratorium, atau pemeriksaan dahak, dan memiliki akurasi lebih dari 86%. Keberadaan teknologi ini dapat mengubah cara diagnosis TB, terutama di negara-negara dengan pendapatan rendah.
AI berpotensi mengubah ponsel menjadi alat diagnostik yang kuat. Hal ini berarti layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa dapat diakses oleh lebih banyak orang, terutama di wilayah yang membutuhkan. Dengan kemajuan teknologi ini, diharapkan jumlah penderita tuberkulosis dapat berkurang secara signifikan, dan penyebarannya dapat dikendalikan dengan lebih efektif.
Inovasi ini tentunya menjadi harapan baru dalam dunia kesehatan, dan diharapkan dapat membantu banyak orang di masa depan.
AI tuberkulosis kesehatan teknologi medis inovasi