Dalam sembilan tahun terakhir, sebuah organisasi bernama Canary Mission telah muncul dengan misi untuk menjaga daftar hitam aktivis yang dianggap anti-Israel di kampus-kampus.
Organisasi ini telah mengumpulkan data tentang ribuan mahasiswa, profesor, dan bahkan profesional seperti dokter dan perawat. Mereka yang terdaftar sering kali mengalami pelecehan, disiplin, bahkan pemecatan dari pekerjaan mereka.
Pihak intelijen Israel telah menggunakan profil dari Canary Mission untuk menahan pengunjung di perbatasan. Sejak masa pemerintahan kedua Donald Trump, beberapa target dari Canary Mission juga telah dideportasi dari Amerika Serikat.
Kenaikan Canary Mission bukan hanya tentang satu organisasi atau bahkan suasana debat yang buruk mengenai Israel-Palestina di Amerika Serikat. Ini lebih tentang bagaimana kekuatan masyarakat sipil dan pemerintah saling berhubungan, serta bahaya yang dihadapi demokrasi akibat aliansi tersebut.
Dengan semakin banyaknya informasi yang dikumpulkan, banyak orang yang merasa terancam dan tidak aman hanya karena pandangan politik mereka. Hal ini memunculkan pertanyaan penting mengenai kebebasan berbicara dan hak-hak individu di lingkungan akademis.
Seiring dengan perkembangan ini, penting bagi kita untuk memahami dampak dari tindakan seperti ini terhadap masyarakat dan demokrasi kita. Kita harus terus berupaya untuk menjaga kebebasan berekspresi dan melindungi hak setiap individu untuk berbicara tanpa rasa takut.
Canary Mission aktivis Israel kampus daftar hitam