Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Carlos Ghosn: Lima Tahun Melarikan Diri ke Lebanon

Setelah lima tahun melarikan diri dari Jepang, Carlos Ghosn, mantan CEO Nissan dan Renault, kini tinggal di Lebanon. Ia dituduh mencuri jutaan dolar dari perusahaan mobil yang dipimpinnya. Ghosn melarikan diri pada bulan Desember 2019 dengan cara yang sangat dramatis, bersembunyi di dalam kotak peralatan audio di pesawat pribadi.

Setiap pagi, Ghosn bangun pukul 5:30 pagi dan biasanya berjalan di pantai bersama istrinya, Carole, dan anjing Golden Retriever mereka. Selain itu, mereka juga berolahraga dengan pelatih pribadi di mansion mewah mereka yang bernilai sekitar 20 juta dolar. Ghosn juga sering menghabiskan waktu di yacht sepanjang 120 kaki yang juga diklaim oleh Nissan, meski ia tidak pernah meninggalkan perairan Lebanon.

Ghosn memiliki paspor Lebanon, Prancis, dan Brasil, dan menganggap dirinya sebagai warga dunia. Namun, setelah melarikan diri, ia kini menjadi buronan internasional dan terjebak di Lebanon, karena negara tersebut tidak mengekstradisi warganya yang terjerat masalah hukum. Ia memiliki surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh jaksa Prancis dan Jepang.

Ghosn membantah semua tuduhan terhadapnya. Ia menyatakan bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri karena proses hukum di Jepang yang panjang dan tingkat keyakinan yang hampir sempurna terhadap terdakwa.

Baru-baru ini, seorang wartawan dari Wall Street Journal menemui Ghosn di sebuah universitas di Lebanon, di mana ia menjalankan program kepemimpinan eksekutif. Selama hampir lima tahun, Ghosn bekerja tanpa gaji untuk program-program kewirausahaan di Universitas Roh Kudus Kaslik, yang terletak sekitar 30 menit di utara ibukota Lebanon, Beirut.

Beberapa mahasiswa mengenali Ghosn saat ia berjalan di kampus. “Carlos, kamu yang terbaik,” teriak salah satu mahasiswa saat mereka bertemu di tangga.

“Saya merasa baik, karena orang-orang menganggap saya sebagai korban,” kata Ghosn.

Meskipun hidupnya kini jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis yang pernah ia jalani, Ghosn terus berusaha untuk memberikan kontribusi di bidang pendidikan dan kewirausahaan di Lebanon.

library_books Wsj