Pada masa gelap Perang Dunia II, ketika akal sehat mulai retak dan suara-suara yang biasanya kita dengar menjadi sunyi, banyak orang yang kembali ke mitos seolah masa lalu masih bisa berbicara. Di antara mereka adalah James Joyce, seorang penulis yang terkenal dengan karyanya yang sangat berbeda, Finnegans Wake.
Finnegans Wake bukan hanya sekadar menghidupkan kembali mitos, tetapi merupakan mitos yang diimpikan kembali. Karya ini penuh dengan fragmen, fermentasi, dan kesuburan ide. Buku ini bukanlah cerita biasa, melainkan sebuah badai kreativitas yang penuh dengan karakter yang seperti topeng, struktur yang melingkar, dan logika yang sulit dipahami.
Joyce tidak hanya kembali ke masa lalu, tetapi ia mengajak kita untuk menjelajahi sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua dari bahasa itu sendiri. Dalam karyanya, kita dapat mendengar bisikan dari teks-teks kuno seperti Veda, dan melihat dewa-dewa Kanaan yang terjatuh dalam permainan kata-kata yang lucu. Banjir Babilonia yang terkenal juga hadir dalam karyanya, membawa tawa dan hasrat.
Karya ini telah dianggap sebagai salah satu yang paling berani dan mungkin paling berbahaya dari abad ini. Joyce menunjukkan kecerdikan dalam ruang lingkup karyanya, tetapi juga memiliki tujuan yang sulit dipahami. Di saat banyak orang meratapi hilangnya makna, Joyce justru merayakan hilangnya makna tersebut. Di mana orang lain membangun altar, ia malah bersenang-senang di antara puing-puing.
Menariknya, meskipun banyak orang merasa terasing dengan karyanya, Finnegans Wake tetap memikat. Permainan kata yang menakjubkan, struktur yang membuat kita terhipnotis, dan kecerdasan yang bersinar seperti obsidian membuat karya ini sulit untuk diabaikan. Setelah Ulysses mencoba mengangkat kehidupan sehari-hari menjadi epik, Finnegans Wake berusaha untuk menempatkan hal-hal kuno di tengah zaman modern.
Saya mungkin menolak karya ini, tetapi saya tidak bisa mengabaikannya. Meskipun terkadang terasa menakutkan, saya terus membacanya. Seperti sebuah patung terlarang yang diangkat dari lumpur, karya ini menarik perhatian meskipun juga bisa menyinggung. Namun, terima kasih kepada Tuhan, karya ini tidak berhasil menciptakan mitos baru yang diinginkan Joyce. Ia tetap hidup bukan sebagai kitab suci, tetapi sebagai artefak; bukan sebagai injil, tetapi sebagai teka-teki.
Beberapa benda berharga seharusnya tetap berada di dalam tanah. Namun, betapa mereka bersinar ketika kotoran itu terjatuh.
James Joyce Finnegans Wake sastra mitos karya klasik