SAP, perusahaan perangkat lunak asal Jerman, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan program-program yang mendukung keberagaman gender dan pemberdayaan perempuan di Amerika Serikat. Keputusan ini diambil seiring dengan kebijakan yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.
Dalam sebuah email internal yang didapat oleh kantor berita dpa, SAP menjelaskan bahwa perubahan ini diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan "perkembangan hukum terbaru" di AS. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan besar harus beradaptasi dengan perubahan kebijakan politik yang dapat mempengaruhi cara mereka menjalankan program-program keberagaman dan inklusi.
Beberapa pihak yang menentang program keberagaman ini berpendapat bahwa dengan memberikan keistimewaan kepada kelompok tertentu, kelompok lainnya justru akan dirugikan. Pendapat ini didukung oleh Presiden Trump, para menteri, serta tokoh-tokoh teknologi seperti Elon Musk, yang mengklaim bahwa inisiatif semacam ini dapat mengurangi kompetensi. Namun, tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.
SAP bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengambil langkah serupa. Perusahaan-perusahaan besar lainnya, termasuk Deutsche Telekom, juga telah membuat penyesuaian terhadap program keberagaman mereka di AS. Deutsche Telekom, yang memiliki bisnis terbesar di AS melalui anak perusahaan T-Mobile US, melaporkan bahwa dua pertiga dari total pendapatan mereka berasal dari pasar Amerika.
Keputusan SAP ini menunjukkan bahwa faktor politik dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap strategi perusahaan, terutama dalam hal keberagaman dan inklusi. Banyak orang berharap agar perusahaan tetap berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang adil dan mendukung semua individu, tanpa memandang latar belakang mereka.
SAP keberagaman Trump perempuan perusahaan