Pada tanggal 12 Mei 1965, Jerman dan Israel resmi menjalin hubungan diplomatik setelah dua dekade pasca-Holocaust. Perjanjian ini ditandatangani oleh Kanselir Jerman, Ludwig Erhard, dan Perdana Menteri Israel, Levi Eschkol. Sejak saat itu, kedua negara telah membangun jaringan hubungan yang erat di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, militer, sains, dan budaya.
Bersempena dengan peringatan 60 tahun hubungan ini, Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, mengungkapkan rasa syukur. Dalam sebuah konferensi pers bersama Presiden Israel, Izchak Herzog, di Schloss Bellevue, Berlin, Steinmeier mengatakan, "Bagi kami orang Jerman, ini adalah sebuah hadiah yang tidak kami harapkan setelah kehancuran yang ditimbulkan oleh Perang Dunia II dan Shoah."
Presiden Herzog juga memberikan pujian kepada Jerman. Ia menyatakan bahwa kata-kata dan tindakan Steinmeier merupakan "contoh dan teladan untuk kejelasan moral serta aliansi yang berani antara negara dan bangsa kita." Herzog menambahkan bahwa mereka sangat bangga akan aliansi dengan Jerman dan menghargai "persahabatan yang mendalam serta kontribusi Jerman terhadap keamanan dan kesejahteraan Israel."
Saat ini, hubungan Jerman-Israel menghadapi tantangan baru, terutama terkait dengan konflik di Gaza. Steinmeier kembali mendesak Israel untuk segera mengizinkan pengiriman bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan di Gaza. Ia juga mengajak Israel dan negara-negara tetangganya untuk menjajaki kemungkinan solusi damai bagi konflik yang sedang berlangsung.
Hubungan ini juga ditandai dengan berbagai inisiatif, seperti pertukaran pemuda dan lebih dari 100 kemitraan kota antara Jerman dan Israel, yang semakin memperkuat ikatan antara kedua negara.
Jerman Israel hubungan diplomatik Holocaust Steinmeier