Bujumbura, Burundi – Mawazo, seorang ibu dari sepuluh anak, mengalami momen yang mengerikan saat melarikan diri dari kekerasan di Republik Demokratik Kongo. Di tengah perjalanan, ia menyaksikan orang-orang tenggelam dan merasa bersyukur karena keluarganya berhasil selamat dan tiba di Burundi.
Ketika melarikan diri, Mawazo hanya membawa tujuh dari sepuluh anaknya, sementara tiga anak lainnya terpaksa ditinggalkan di Kongo. "Kami perlu pindah ke tempat yang lebih aman, di mana kami tidak perlu hidup dalam ketakutan," ujar Mawazo, menggambarkan situasinya.
Sejak bulan Januari, ribuan orang seperti Mawazo telah melarikan diri akibat kekerasan yang semakin meningkat di bagian timur Kongo. Kontradiksi yang menyedihkan terjadi saat banyak keluarga terpaksa berpisah demi keselamatan. Mawazo kini tinggal di sebuah tempat penampungan di Burundi, berharap untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik dan suatu hari dapat kembali ke rumahnya.
Organisasi Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) saat ini berada di lokasi dan memberikan bantuan kepada para pengungsi, namun kebutuhan akan bantuan sangat tinggi. Mereka yang terpaksa meninggalkan rumah mereka sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat internasional.
UNHCR mengajak masyarakat untuk memberikan bantuan mendesak. Setiap sumbangan dapat membantu memperbaiki kehidupan para pengungsi ini dan memberikan harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya.
Bagi Anda yang ingin membantu, silakan cari informasi lebih lanjut untuk memberikan dukungan. Masa depan Mawazo dan ribuan pengungsi lainnya sangat bergantung pada kebaikan hati kita.
Mawazo kekerasan Kongo Burundi pengungsi