Pada peringatan Hari Keluarga Sedunia, kisah keluarga Solomon menjadi inspirasi dan pengingat pentingnya perlindungan hak keluarga. Saat perang melanda Eritrea, keluarga ini harus berpisah demi keselamatan. Naemi yang berusia tujuh tahun, adiknya Bruck yang berusia empat tahun, dan bayi Yoftahie yang baru berumur 10 bulan harus berpisah dari ayah mereka yang berusaha mencari tempat aman.
Ayah mereka akhirnya mendapatkan perlindungan di Yunani, sementara keluarga lainnya tinggal di Uganda. Berkat bantuan dari Dewan Pengungsi Yunani dan UNHCR, ayah mereka berjuang selama bertahun-tahun untuk menyatukan kembali keluarganya. Usahanya akhirnya berhasil. Keluarga Solomon akhirnya berkumpul kembali di Athena, Yunani.
Perjalanan mereka bukan hanya soal reuni. Ini adalah simbol harapan bagi banyak keluarga pengungsi lain yang terpisah karena konflik dan bahaya. Reuni keluarga ini menunjukkan bahwa keberadaan jalur legal dan aman sangat penting untuk melindungi hak asasi manusia, khususnya hak untuk berkumpul dan bersatu kembali.
Menurut data dari UNHCR, antara tahun 2021 hingga 2024, sebanyak 145 keluarga berhasil disatukan kembali di Yunani dengan bantuan berbagai organisasi. Tapi, sayangnya, upaya ini kini terancam karena anggaran yang dipotong secara besar-besaran.
Potongan anggaran ini mengancam layanan penting seperti dukungan hukum bagi pengungsi. Jika layanan ini hilang, semakin banyak keluarga yang harus berpisah dan lebih banyak nyawa yang berisiko. Banyak keluarga merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa.
Reuni keluarga seperti yang dialami keluarga Solomon memberi harapan baru dan mengingatkan kita akan pentingnya perlindungan hak asasi manusia. Semua orang berhak untuk hidup aman dan bersatu kembali dengan keluarga mereka. Semoga pemerintah dan organisasi internasional dapat terus mendukung dan menjaga jalur legal agar keluarga-keluarga seperti mereka tetap bisa bersatu, dan keluarga lainnya tidak perlu mengalami penderitaan yang sama.
reuni keluarga pengungsi UNHCR Greece Eritrea bantuan hukum