Hari ini, Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial (GEMA PS) Indonesia Provinsi Jawa Timur menggelar sarasehan mengenai penyelesaian konflik tenurial di kawasan hutan Jawa. Acara ini berlangsung di Magetan pada Minggu, 18 Mei 2025, dan diikuti oleh anggota GEMA PS dari berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk Kediri, Malang, Madiun, Banyuwangi, dan Magetan.
Acara ini menghadirkan beberapa pembicara penting, antara lain Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc, seorang Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, dan Penjabat Bupati Magetan Nizhamul.
Dalam sambutannya, Penjabat Bupati Magetan, Nizhamul, menyampaikan bahwa konflik tenurial adalah masalah yang kompleks dan telah berlangsung lama. "Permasalahan Konflik Tenurial adalah persoalan multi dimensi yang berlangsung lama, dan menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung baik dari segi aspek sosial, ekonomi, dan budaya," ujarnya. Nizhamul menekankan bahwa sarasehan ini merupakan momentum strategis untuk mendalami akar permasalahan dan mencari solusi yang adil serta berkelanjutan.
Nizhamul juga menambahkan bahwa keberadaan masyarakat di sekitar hutan bukanlah ancaman, melainkan merupakan mitra penting dalam menjaga kelestarian hutan. "Pemerintah daerah mendukung segala dialog seperti kegiatan ini," jelasnya. Ia berharap diskusi yang dilakukan dapat menghasilkan rumusan pemikiran, rekomendasi, dan langkah nyata yang dapat ditindaklanjuti.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, turut berbicara dalam kesempatan ini. Ia menyatakan rasa senangnya bisa bersinergi dengan GEMA PS Indonesia. "Merasa senang bisa bersinergi dengan GPSI, sehingga bisa mendapat pendampingan akademis, pendampingan tenokratis, dan substantif dalam menyikapi permasalahan," ungkap Emil Dardak.
Acara ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat dan membantu dalam penyelesaian konflik tenurial di kawasan hutan Jawa.
GEMA PS konflik tenurial Jawa Timur Magetan hutan