Dalam beberapa tahun terakhir, angka kelahiran di seluruh dunia menurun drastis hingga mencapai tingkat terendah dalam sejarah. Namun, sebuah tren menarik muncul: banyak orang yang mengalihkan naluri pengasuhan mereka kepada anggota keluarga berkaki empat, yaitu anjing.
Penelitian dari Universitas Eötvös Loránd di Hungaria menunjukkan bahwa meskipun anjing tidak secara harfiah menggantikan anak, mereka dapat memenuhi dorongan mendalam kita untuk merawat makhluk hidup dengan tuntutan dan biaya yang jauh lebih sedikit.
Sejak tahun 1963, angka kelahiran global telah menurun dari 5,3 menjadi 2,3 kelahiran per wanita. Di sisi lain, kepemilikan anjing meningkat pesat. Kini, sekitar 50% rumah tangga di Eropa dan 66% rumah tangga di Amerika Serikat memiliki anjing sebagai "anggota keluarga". Di Hungaria sendiri, 16% pemilik anjing menganggap hewan peliharaan mereka sebagai anak, angka ini meningkat hingga 37% di beberapa kelompok demografis.
Laura Gillet, peneliti utama, menjelaskan, "Anjing mewakili kompromi yang memuaskan, memenuhi dorongan genetik untuk merawat tanpa memerlukan sumber daya yang besar seperti yang dibutuhkan untuk membesarkan anak biologis." Penelitian menunjukkan bahwa anjing memiliki kemampuan kognitif yang sebanding dengan anak-anak berusia 2 hingga 2,5 tahun dan membentuk ikatan emosional yang nyata yang mirip dengan hubungan antara orang tua dan anak.
Teknologi pencitraan otak menunjukkan kenyataan neurokimia yang menarik. Ibu-ibu menunjukkan aktivasi otak yang serupa ketika melihat foto anak-anak mereka dan anjing mereka. Hormon "cinta", yaitu oksitosin, meningkat dalam kedua spesies tersebut selama interaksi, sama seperti jalur yang terlibat dalam ikatan antara orang tua dan anak manusia.
Tren ini menunjukkan bahwa meskipun angka kelahiran menurun, kebutuhan manusia untuk mencintai dan merawat tetap ada. Dengan mengadopsi anjing, banyak orang menemukan cara baru untuk memenuhi naluri pengasuhan mereka.
tren baru hewan peliharaan pengasuhan anjing