Barista di lebih dari 100 lokasi Starbucks melakukan walkout sebagai bentuk protes terhadap kode pakaian baru yang diterapkan perusahaan. Protes ini terjadi setelah perubahan besar-besaran yang dilakukan oleh CEO baru, Brian Niccol, yang ingin membawa merek Starbucks kembali ke prinsip dasar.
Dalam upaya ini, perusahaan kini mewajibkan karyawannya untuk mengenakan pakaian yang lebih sederhana, yaitu atasan hitam polos dan bawahan denim berwarna khaki, hitam, atau biru, yang dipadukan dengan apron hijau khas Starbucks. Namun, serikat pekerja yang tergabung dalam Starbucks Workers United menganggap kode pakaian baru ini terlalu membatasi dan tidak produktif.
Dalam sebuah email kepada para pendukungnya, serikat pekerja menyebutkan bahwa kode pakaian tersebut adalah bentuk "perundingan yang tidak baik" dan mengklaim bahwa perubahan ini melanggar kesepakatan sementara yang telah dibuat sebelumnya tentang pakaian karyawan.
Seorang juru bicara dari Workers United mengungkapkan bahwa lebih dari 1.200 barista terlibat dalam walkout ini. Mereka menunjukkan ketidakpuasan terhadap keputusan manajemen yang dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan karyawan. Protes ini juga muncul setelah laporan keuangan Starbucks yang mengecewakan di kuartal kedua tahun 2025, yang membuat banyak analis meragukan seberapa efektif rencana "kembali ke prinsip dasar" yang diterapkan oleh Niccol.
Walkout ini menunjukkan ketidakpuasan karyawan yang semakin meningkat terhadap kebijakan perusahaan, dan menyoroti tantangan yang dihadapi oleh Starbucks dalam mempertahankan hubungan baik dengan karyawannya di tengah perubahan besar ini. Dengan lebih dari seribu barista yang terlibat, tuntutan mereka untuk meninjau kembali kode pakaian tersebut menjadi sorotan utama dalam industri kopi.
Starbucks kode pakaian barista walkout serikat pekerja