Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pria Bom Klinik Kesuburan di California Dipicu Keyakinan Antinatalisme

Palm Springs, California – Seorang pria berusia 25 tahun bernama Guy Bartkus meledakkan bom mobil di depan American Reproductive Centers, sebuah klinik kesuburan di Palm Springs. Kejadian ini terjadi baru-baru ini dan menyebabkan lima orang terluka serta mengakibatkan kematian Bartkus sendiri. Meskipun ledakan tersebut menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada bangunan, seluruh embrio yang ada di dalam klinik berhasil diselamatkan.

Menurut FBI, tindakan ini merupakan aksi terorisme yang ditargetkan. Bartkus bahkan berusaha untuk menyiarkan langsung serangannya melalui media sosial. Peneliti terorisme berpendapat bahwa Bartkus terhubung dengan paham antinatalisme, yaitu keyakinan bahwa kehidupan itu pada dasarnya menyakitkan dan tidak seharusnya dilanjutkan. Selain itu, ia juga terkait dengan promortalism dan misandry, yang merupakan pandangan yang merendahkan pria.

Katherine Keneally, direktur analisis ancaman di Institute for Strategic Dialogue (ISD), menjelaskan bahwa ideologi Bartkus melampaui nihilisme. "Dia tampaknya percaya bahwa dia memiliki misi untuk mencegah kehidupan baru diciptakan, dan ini mungkin menjadi motivasinya untuk menargetkan klinik kesuburan," ujarnya.

Walaupun paham antinatalisme dan nihilisme terkadang muncul dalam kelompok ekstremis, Keneally menegaskan bahwa promortalism belum pernah menjadi motivator utama dalam tindakan kekerasan sebelumnya. Para analis ISD percaya bahwa Bartkus bisa jadi merupakan sebuah eskalasi baru yang berbahaya dalam tindakan terorisme.

Ledakan ini terjadi lebih dari seminggu setelah ISD merilis laporan yang memperingatkan bahwa ideologi nihilistik sedang memicu gelombang kekerasan di Amerika Serikat dan Eropa. Laporan tersebut menyoroti dua subkultur online tertentu: Komunitas True Crime, yang mengagungkan penembak massal, dan No Lives Matter, sebuah kelompok yang berusaha untuk meniru serangan kekerasan dan menyebarkan konten ekstremis melalui meme, musik, dan media lainnya. No Lives Matter juga terkait dengan citra Satanis dan dihubungkan dengan jaringan 764, yang telah mengeksploitasi anak di bawah umur secara online.

library_books Wired