Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, baru-baru ini mengkritik jumlah bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza oleh Israel. Menurut Guterres, bantuan yang diterima saat ini hanya "sejumput" sementara dibutuhkan "banjir" bantuan untuk memenuhi kebutuhan warga Gaza.
Dalam pernyataannya, Guterres juga memperingatkan bahwa empat per lima wilayah Jalur Gaza telah menjadi "daerah terlarang" bagi penduduk setempat. Hal ini disebabkan oleh tindakan militer Israel di beberapa bagian wilayah tersebut serta perintah evakuasi yang dikeluarkan.
Israel telah mengizinkan pengiriman bantuan oleh PBB dan kelompok bantuan lainnya untuk sementara waktu, hingga model distribusi baru yang didukung oleh AS - yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang baru dibentuk - siap digunakan. Namun, PBB menyatakan bahwa rencana GHF tidak bersifat netral atau tidak memihak, dan mereka tidak akan terlibat dalam operasinya.
Israel menuduh kelompok Hamas dan militan lainnya mengambil sebagian besar bantuan yang masuk. Namun, PBB dan pekerja kemanusiaan membantah adanya penyimpangan besar, dengan menyatakan bahwa mereka secara ketat memantau distribusi bantuan yang ada.
Kondisi di Gaza semakin memprihatinkan, dan Guterres menyerukan perlunya tindakan segera untuk memastikan bantuan yang lebih besar dan lebih efektif dapat sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Pernyataan Guterres menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin mendalam di wilayah tersebut, di mana banyak orang terjebak dalam situasi yang sulit tanpa akses yang memadai terhadap kebutuhan dasar.
PBB Antonio Guterres Gaza bantuan Israel