Penjualan semen nasional pada kuartal pertama tahun 2025 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Data menunjukkan bahwa penjualan semen anjlok sebesar 7,8 persen secara tahunan (YoY), dengan total penjualan hanya mencapai 13,16 juta ton.
Angka ini jauh di bawah ekspektasi para analis dan juga rata-rata penjualan semen dalam lima tahun terakhir. Penurunan ini terutama disebabkan oleh terhambatnya aktivitas konstruksi di seluruh Indonesia.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan hambatan ini adalah tingginya curah hujan yang terjadi di berbagai daerah. Selain itu, keterbatasan hari kerja efektif dan pergeseran periode Ramadan serta Idulfitri ke kuartal pertama juga turut mempengaruhi penjualan semen.
Dari segi segmen, penjualan semen curah (bulk) mengalami penurunan tajam sebesar 15,30 persen (YoY), dengan volume hanya mencapai 3,72 juta ton. Penurunan permintaan semen ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, namun dampaknya paling parah dirasakan di Kalimantan, yang mengalami kontraksi hingga 36,86 persen (YoY). Hal ini sebagian besar disebabkan oleh tertundanya pelaksanaan proyek Ibu Kota Negara (IKN).
Dengan kondisi ini, banyak pihak berharap agar industri semen dapat bangkit kembali pada semester kedua tahun 2025. Meski saat ini penjualan semen merosot, diharapkan adanya perbaikan cuaca dan kembalinya aktivitas konstruksi dapat mendorong peningkatan penjualan di masa mendatang.
penjualan semen kuartal I 2025 konstruksi curah hujan IKN