NASA dan Ilmuwan Smithsonian Temukan Cara Baru Deteksi Erupsi Gunung Berapi
NASA dan ilmuwan dari Smithsonian Institution telah menemukan bahwa hutan berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi erupsi gunung berapi. Penemuan ini menunjukkan bahwa pohon dapat memberikan sinyal peringatan beberapa minggu atau bahkan tahun sebelum sistem pemantauan tradisional dapat mendeteksi bahaya.
Saat magma mulai bergerak ke permukaan Bumi, ia melepaskan gas karbon dioksida (CO2) secara perlahan. Pohon-pohon menyerap gas ini melalui akar mereka. Penambahan CO2 ini bertindak seperti pupuk, yang membuat daun-daun pohon menjadi lebih hijau dan cerah. Perubahan ini adalah sinyal SOS yang halus namun kuat, yang hanya bisa terlihat dari luar angkasa melalui satelit seperti Landsat 8 dan Sentinel-2.
Menurut Robert Bogue, seorang ahli vulkanologi dari NASA, "Ide ini adalah untuk menemukan sesuatu yang bisa kita ukur, bukan mengukur karbon dioksida secara langsung. Ini memberikan kita cara untuk mendeteksi perubahan emisi dari gunung berapi." Sistem peringatan dini berbasis biologis ini terbukti menyelamatkan nyawa pada tahun 2018 ketika pemantauan CO2 membantu mengevakuasi lebih dari 56.000 orang dari gunung berapi Mayon di Filipina sebelum erupsi terjadi, sehingga tidak ada korban jiwa.
Studi lapangan terbaru di gunung Rincón de la Vieja, Costa Rica, mengonfirmasi fenomena ini. Para peneliti menemukan bahwa pohon-pohon di dekat sumber air panas vulkanik tumbuh dengan sangat subur dibandingkan dengan vegetasi di sekitarnya. Data dari Yellowstone yang diambil antara tahun 1984 hingga 2022 juga menunjukkan pola yang sama—vegetasi menjadi lebih hijau sebelum aktivitas vulkanik meningkat, kemudian menjadi coklat saat gas belerang beracun muncul.
Bagi 800 juta orang yang tinggal dekat gunung berapi aktif di seluruh dunia, sistem deteksi berbasis hutan ini dapat memberikan peringatan berharga beberapa minggu sebelum erupsi, sementara pemantauan seismik tradisional mungkin hanya memberikan waktu beberapa jam.
NASA deteksi erupsi gunung berapi pohon hutan CO2