Gaza, 29 Mei 2025 - Sebuah skema distribusi bantuan yang kontroversial antara Amerika Serikat dan Israel berubah menjadi kekacauan. Kerusuhan terjadi ketika ribuan warga Gaza yang lapar dan kelelahan berusaha mendapatkan makanan setelah dipaksa menunggu di luar fasilitas bantuan.
Menurut para jurnalis dan saksi mata, kerusuhan ini disebabkan oleh penundaan dalam pemeriksaan keamanan para penerima bantuan. Dalam situasi yang tegang ini, suara tembakan terdengar di lokasi distribusi. Meskipun militer Israel membantah telah menembaki kerumunan, laporan dari Associated Press menyebutkan adanya tembakan tank dan senjata yang mungkin merupakan tembakan peringatan dari tentara bayaran Amerika yang mengamankan fasilitas tersebut.
Awalnya, tidak ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau luka-luka. Namun, media Arab melaporkan bahwa tiga orang tewas dan 46 lainnya terluka akibat tembakan yang berasal dari tentara Israel ke arah kerumunan yang berdesakan untuk mendapatkan paket makanan.
Fundasi Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didirikan pada bulan Februari lalu mendapat kritikan tajam dari pejabat PBB. Mereka berpendapat bahwa rencana distribusi bantuan yang diprakarsai oleh Israel dan hanya melibatkan perusahaan swasta, akan memperburuk pemindahan warga Palestina dan menambah kekerasan.
Banyak orang di media sosial mengecam cara penyaluran bantuan yang terjadi pada hari Selasa lalu. Ketika tentara bayaran Amerika melarikan diri dari lokasi, ribuan warga Palestina yang kelaparan merangsek melewati pos pemeriksaan yang dijaga, menciptakan kekacauan di area tersebut.
Selama 80 hari terakhir dari blokade Israel, kematian akibat kelaparan di kalangan warga Palestina meningkat menjadi 58 orang. Krisis yang semakin memburuk ini memicu kecaman internasional yang semakin meningkat, bahkan mendapatkan kritik tajam dari sekutu Barat utama Israel seperti Inggris, Kanada, Prancis, dan Jerman.
Gaza bantuan kerusuhan Israel kemanusiaan