Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Bursa Saham Shanghai dan Shenzhen Alami Penurunan IPO

Bursa saham di Shanghai dan Shenzhen saat ini menghadapi tantangan besar dalam menarik perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO). Menurut seorang bankir, kedua bursa tersebut "nyaris tidak berfungsi" sebagai tempat untuk IPO.

Pada tahun 2022, IPO di Tiongkok mencatat rekor tertinggi secara global dengan total penggalangan dana mencapai $81 miliar. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2024, hanya 100 perusahaan yang melantai di bursa, jumlah terendah dalam sepuluh tahun terakhir.

Penurunan ini terlihat jelas dari grafik yang menunjukkan bahwa perusahaan, investor, dan regulator menjadi enggan untuk melakukan pencatatan di daratan Tiongkok. Keengganan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian ekonomi dan kebijakan yang kurang mendukung bagi perusahaan yang ingin go public.

Di sisi lain, Hong Kong terlihat lebih menarik bagi perusahaan yang ingin melakukan IPO. Banyak perusahaan memilih untuk mendaftar di Hong Kong karena lingkungan yang lebih ramah bagi bisnis dan peluang investasi yang lebih baik. Hal ini menunjukkan pergeseran minat dari bursa saham di daratan Tiongkok ke Hong Kong.

Para analis mengungkapkan bahwa untuk memulihkan minat terhadap IPO di Shanghai dan Shenzhen, diperlukan reformasi kebijakan yang dapat memberikan insentif lebih bagi perusahaan untuk melakukan pencatatan. Jika tidak, bursa di Tiongkok mungkin akan terus mengalami penurunan dalam aktivitas IPO, dan hal ini dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara.

library_books Theeconomist