Jakarta – Inggit Garnasih adalah sosok yang sangat penting dalam perjuangan Soekarno untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan istri kedua dari Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, dan mereka menikah pada 24 Maret 1923. Pernikahan ini bertahan hingga 29 Januari 1943. Inggit tidak hanya menjadi pendamping, tetapi juga penyokong moral dan finansial, serta tempat berlindung bagi Soekarno dalam perjuangannya.
Selama masa-masa sulit, Inggit setia mendampingi Bung Karno. Ia menemani Soekarno ketika diasingkan di Ende dari tahun 1934 hingga 1938, dan kemudian di Bengkulu dari tahun 1938 hingga 1942. Di Ende, Inggit terlibat aktif dalam kegiatan yang dilakukan Soekarno untuk membangkitkan semangat kemerdekaan, termasuk dalam sebuah kelompok drama bernama Toneel Klub Kelimutu.
Menurut sastrawan Ramadhan KH dalam bukunya yang berjudul Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Bu Inggit Dengan Bung Karno, terbentuknya Toneel Klub Kelimutu bermula ketika Soekarno dan Inggit merasa diawasi oleh polisi rahasia Belanda. "Singkat cerita, polisi itu dikejar anjing dan menghindarinya dengan memanjat pohon. Soekarno protes kepada polisi karena diawasi dan dibuntuti. Sepulang dari kantor polisi, Soekarno menyampaikan gagasan membentuk kelompok sandiwara," kenang Inggit.
Inggit menjelaskan bahwa kelompok sandiwara tersebut segera dibentuk dengan mengajak beberapa orang, semua laki-laki, karena sulit mendapatkan wanita yang bisa diajak berperan. Mereka menamai kelompok ini Toneel Kelimutu, di mana "Toneel" berarti drama dalam bahasa Belanda, dan "Kelimutu" merujuk pada danau tiga warna yang terkenal di Ende.
Di tengah keterasingannya, Bung Karno menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan harus tetap dikobarkan. Ia pernah menggambarkan hari-hari pertamanya di Flores sebagai waktu yang sangat sulit. "Aku memerlukan suatu pendorong atau aku akan membunuh diriku sendiri. Begitulah kondisiku ketika aku mulai menulis naskah sandiwara," ungkapnya.
Karya pertama yang ditulis Soekarno adalah naskah berjudul Dr Sjaitan, yang terinspirasi dari novel Frankenstein karya Mary Shelley. Naskah ini mengajarkan bahwa tubuh Indonesia yang tak bernyawa bisa dibangkitkan kembali. Dalam drama ini, tokoh utama yang diperankan menyerupai Boris Karloff, menghidupkan mayat melalui transplantasi hati. Suasana drama dikemas dengan heroik untuk menanamkan sikap anti penjajahan di kalangan masyarakat Ende terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Perjuangan Inggit Garnasih dan Soekarno menunjukkan betapa pentingnya peran seorang pendukung dalam mencapai tujuan besar seperti kemerdekaan. Tanpa dukungan dari Inggit, perjalanan Soekarno mungkin tidak akan sekuat dan seberani yang kita kenal sekarang.
Inggit Garnasih Soekarno kemerdekaan Toneel Kelimutu