Sejumlah lebih dari 400 tokoh budaya dari berbagai latar belakang politik di Inggris telah mengeluarkan pernyataan yang meminta Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Menteri Dalam Negeri, Yvette Cooper, untuk menghentikan larangan terhadap Palestina Action demi menjaga kebebasan berbicara.
Di antara para penandatangan pernyataan ini terdapat nama-nama terkenal seperti Alan Hollinghurst, Pankaj Mishra, Brian Eno, dan Yanis Varoufakis. Mereka menegaskan, "Apakah kita sebagai individu mendukung Palestina Action atau tidak, itu tidak relevan. Yang penting adalah prinsip kebebasan berekspresi itu sendiri."
Dalam surat terpisah yang diorganisir oleh Artists for Palestine UK, sekelompok tokoh budaya Inggris lainnya yang juga terkenal, termasuk aktris Tilda Swinton dan musisi Paul Weller, menyatakan: "Ancaman nyata bagi kehidupan bangsa ini bukan berasal dari Palestina Action, tetapi dari upaya Menteri Dalam Negeri Yvette Cooper untuk melarangnya."
Pernyataan dari Fossil Free Books menambahkan, "Tindakan ketidakpatuhan sipil bukanlah 'terorisme', seperti yang ditunjukkan oleh sejarah, mulai dari perjuangan para suffragette hingga Martin Luther King Jr. Ini adalah hak semua warga negara dalam sebuah demokrasi."
Palestina Action didirikan pada tahun 2020 sebagai kelompok aksi langsung. Pemerintah Inggris berencana untuk melarang kelompok ini setelah aktivisnya melakukan aksi dengan cara menerobos masuk ke RAF Brize Norton, pangkalan udara terbesar di Inggris, pada 20 Juni. Mereka menyemprotkan cat pada dua pesawat menggunakan skuter listrik.
Para aktivis tersebut berhasil menghindari keamanan dan melarikan diri dari pangkalan. Mereka menjelaskan bahwa mereka menargetkan lokasi tersebut karena penerbangan dari sana menuju RAF Akrotiri di Siprus, "sebuah pangkalan yang digunakan untuk operasi militer di Gaza dan di seluruh Timur Tengah."
Aksi ini menimbulkan perdebatan tentang batasan kebebasan berbicara dan tindakan yang dianggap sebagai protes di negara demokrasi seperti Inggris.
Palestina Action kebebasan berbicara tokoh budaya Inggris